Busyro Ungkap Novel Baswedan Pernah Diancam Dibunuh

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Busyro Muqoddas mengungkap kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik KPK, Novel Baswedan harus mendapat perhatian lebih jauh meski sudah ada dua tersangka ditangkap. Busyro meyakini penyiraman tak terjadi begitu saja karena percobaan pembunuhan pada Novel sudah dilakukan hingga tujuh kali selama ia memimpin KPK.

Kepada wartawan ketika ditemui di kantor PP Muhammadiyah, Senin (30/12/2019) Busyro mengakui penyiraman air keras pada Novel, 11 April 2017 lalu ternyata hanya salah satu diantara renteten percobaan pembunuhan yang pernah terjadi sebelumnya. Selama empat tahun Busyro bertugas di KPK, upaya penganiayaan atau ancaman pembunuhan terhadap Novel sampai tujuh kali dialami dan salah satunya salah sasaran ke penyidik yang mirip dengan Novel.

Baca juga :

Sempat Dipukuli, Mahasiswa di Yogya Jadi Korban Salah Tangkap Polisi
UMY Luncurkan 'Cafe 1912'

“Polisi aktif yang jadi penyidik pernah kena sasaran (percobaan pembunuhan). Dia ditabrak dengan mobil besar dan kakinya patah berat. Penyidik saat saya besuk di rumahnya Sabtu-Minggu saat saya tidak bertugas mengatatakan ini yang ditarget sebenarnya bukan saya pak, tapi Novel, lihat saja ini bagian-bagian wajah saya mirip dia. Setelah saya cari kemiripannya memang mirip jidatnya,” ungkap Busyro.

Rentetan ancaman tersebut menurut Busyro menjadi sinyalemen kuat kejadian pada Novel tak berdiri sendiri. Ia pun berharap publik ikut memantau proses peradilan pada dua tersangka hingga berhasil mengungkap aktor intelektual di baliknya.

Ia pun tak percaya begitu saja alasan balas dendam yang disampaikan dua tersangka yakni RB dan RM yang merupakan polisi aktif. “Kalau sentimen pribadi kenapa tidak dari dulu saja, baru sekarang dilakukan,” sambungnya.

Busyro pun meminta pemerintah membuka kasus tersebut secara terang dan hingga menemukan aktor intelektual. Pasalnya, banyak masyarakat tak percaya dua tersangka merupakan pelaku lantaran gambar wajah berbeda yang ditampilkan beberapa waktu lalu.

“Semua pihak harus mencermati, termasuk saat reka ulang agar diketahui kejujuran dan proses penangkapan pelaku ini. Saya kira di sisi lain Komnas HAM paling bisa diharapkan untuk memantau kasus ini secara detail dan menyeluruh,” pungkas Busyro. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI