Cagar Budaya Jadi Sasaran Vandalisme, Sungguh Terlalu..

YOGYA, KRJOGJA.com – Aksi vandalisme marak terjadi di DIY. Bahkan tidak jarang bangunan cagar budaya yang seharusnya dijaga keberadaannya, justru jadi sasaran empuk aksi vandalisme.  

Maraknya aksi vandalisme yang juga menimpa bangunan cagar budaya di Yogyakarta ini menjadi keprihatinan tersendiri. Terlebih, bangunan-bangunan tersebut sarat nilai sejarah serta menjadi peninggalan masa lalu yang wajib dilestarikan.

"Vandalisme jelas perbuatan yang tidak bisa dibenarkan. Sebetulnya sudah ada media yang disediakan, seperti papan mural untuk menyalurkan keinginan daripada melakukan tindak vandalisme," ujar Wakil Kepala Dinas Kebudayaan DIY Singgih Raharjo kepada KRJOGJA.com, Minggu (20/5/2018).

Terlebih, lanjut Singgih, jika aksi vandalisme tersebut sudah menyasar bangunan heritage yang harus menjadi keprihatinan bersama. Namun begitu, meski vandalisme merupakan perbuatan tidak baik, Singgih tidak mau menyalahkan pihak lain. "Mungkin yang melakukan vandalisme tidak tahu aturan cagar budaya. Jika saja mereka tahu konsekuensinya, pasti akan menghindari perbuatan itu," sebutnya.

Untuk itulah Singgih menyatakan perlunya sosialisasi Undang Undang Cagar Budaya sehingga masyarakat menjadi lebih paham. Vandalisme, apalagi pada bangunan heritage, merupakan perbuatan yang diancam dengan hukum pidana dan denda.

"Termasuk kami juga sudah lakukan sejumlah langkah-langkah antisipasi seperti pemasangan plakat cagar budaya. Paling tidak hal tersebut menjadi pengingat jika saja ada niat untuk berbuat hal tidak baik sehingga urung dilakukan," ungkap Singgih.

Salah satu bangunan bersejarah yang menjadi sasaran aksi vandalisme yakni sebuah bangunan kuno di Jalan Loji Kecil Wetan Yogya (Jalan Mayor Suryotomo). Gedung ini dulunya merupakan tempat mencetak Oeang Republik Indonesia (ORI). Saat ini bangunan tersebut masih berdiri kokoh, sayangnya di bagian luar tampak coretan vandalisme tangan-tangan tak bertanggungjawab.

Budayawan dari UGM, Prof Djoko Suryo mengatakan, perlu perhatian serius terhadap keberadaan cagar budaya jangan sampai rusak karena adanya tangan-tangan jahil. Butuh pendekatan untuk mencegah terjadinya tindakan yang merugikan upaya pelestarian tersebut.

"Biasanya, anak muda yang suka melakukan tindakan vandalisme. Mereka sedang dalam masa muda yang kadang tidak peduli pada lingkungan," ungkapnya.
Karenanya, selain pendekatan personal, perlu pula pendekatan di sekolah. Dapat pula dengan mengadakan karya wisata budaya supaya makin mengenal dan akhirnya mampu menghargai karya leluhur.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM Prof Koentjoro PhD mengatakan, jika dicermati, aksi vandalisme yang banyak dilakukan anak usia sekolah akibat ketidakberdayaan orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Menurutnya, anak-anak sampai bisa melakukan tindakan vandal, karena ada fase pendidikan di lingkungan keluarga yang gagal, sehingga berimbas saat anak tumbuh remaja.
Salah satu fase itu, saat anak berusia 3-5 tahun atau yang disebut toilet training. Di fase ini, seharusnya anak diajari orangtuanya dimana tempat buang air kecil yang benar (toilet), buang air besar dan buang sampah. Menurut Koentjoro, toilet training sangat penting untuk membentuk budaya disiplin dan bersih pada diri anak sejak dini. 

"Orangtua yang gagal mendidik anak tentang toilet training, bisa menjadikan anak bertindak vandal atau suka corat-coret," terang Koentjoro.

Pendidikan kedisiplinan dan kebersihan ini, kata Koentjoro, harus terus diberikan seiring anak tumbuh remaja hingga dewasa. 

Dengan maraknya aksi vandalisme, upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir (dalam waktu dekat) adalah penegakan aturan secara tegas dengan memberi sanksi hukuman bagi pelaku. Misalnya dihukum membersihkan tembok yang telah dicorat-coret dengan disaksikan teman-teman sekolahnya. Ini untuk memberi efek jera (malu) sehingga tidak akan mengulanginya lagi. 

Penyebab anak melakukan aksi vandalisme lainnya karena mereka tidak diperlakukan semestinya (sering dimarahi atau disuruh-suruh) di lingkungan keluarga oleh orangtuanya. Akibatnya saat di luar rumah, mereka ingin menunjukkan diri dan melampiaskan dalam bentuk negatif seperti vandalisme. Untuk itu perlu ada revolusi pendidikan keluarga, yakni orangtua lebih perhatian mendidik putra-putrinya. 

Upaya lain yang bisa dilakukan guna meminimalisir aksi vandalisme dengan menyediakan wahana berekspresi terutama seni grafiti atau seni mural dan supaya lebih bersemangat bisa dibuat lomba.(Feb/Sal/Dev)

BERITA REKOMENDASI