Carlo Liberianto Ungkap Perjuangan Awal Jikustik

Editor: Ivan Aditya

MENSYUKURI yang ternikmati daripada mengecam kondisi, dilakukan sebagian orang di masa pandemi Covid-19. Carlo Liberianto salah satunya. Drumer Jikustik ini santai menghadapi masa yang tidak menentu.

Toh begitu, pengidola Jeff Porcaro dan Simon Phillips ini tidak nglokro. Ia tetap bersemangat berkarya. Suami Diah Pradiati ini malah usaha online-nya meningkat berkat imbauan stay home.
Lewat chatting WhatsApp, KRJOGJA.com ngobrol dengan warga Plawikan Jogonalan Klaten itu.

Sibuk apa selama pandemi Covid-19 ini?

Di rumah saja sama keluarga. Momong anak dan kumpul keluarga. Juga ada usaha baju tidur cewek dan anak-anak. Nggak tahu kenapa selama pandemi ini penjualan online malah meningkat. Di rumah, buka gadget, akhirnya belanja. Atau bisa juga karena orang-orang sedang banyak di rumah lalu yang dicari bukan baju untuk pergi, melainkan baju untuk di rumah.

Kegiatan berkait band?

Untuk jadwal band memang sudah jelas banyak yang ditunda. Hehehe…. Dan untuk pariwisata, Yogya juga sedang ditutup kan. Makanya untuk Jikustik dan homestay saya di daerah Gentan Jalan Kaliurang, mau nggak mau harus off dulu sejenak.

Bikin singel baru?

Kemarin kami produksi di rumah masing-masing. Singelnya berjudul Dilema. Sudah bisa dinikmati di kanal YouTube Jikustik Official. Di situ tampak kami sedang take di tempat masing-masing. Ini juga ada program baru Jikustik, namanya Jikustik Show. Kemasannya talkshow, ada narasumber, kami menjadi host dan tampil juga. Rencana akan disiarkan tiap Minggu pukul 20.00 di kanal YouTube Jikustik Official.

Berarti kerja, berkarya tetap jalan….

Sementara masih diusahakan untuk tetap berkarya dengan singel-singel terbaru. Hanya mungkin yang harusnya bulan ini, agak terpending dulu, pertimbangan kondisi yang belum kondusif.

Mengamati pentas musisi atau band secara daring? Komentar tentang fenomena tersebut?

Hanya melihat sepintas. Menurut saya itu malah jadi fenomena bagus. Karena di situ orang bisa bebas memilih berkolaborasi dengan siapa saja, yang sebelumnya mungkin belum berkolaborasi dengan musisi idolanya.

Ada band yang pentas via YouTube, dapat saweran puluhan juta rupiah. Jikustik belum mengarah ke sana?

Sebenarnya sudah ada yang menawarkan konsep seperti itu. Hanya memang belum kami lakukan. Yang menawarkan ke Jikustik menyediakan lahan, tinggal Jikustik tampil saja. Bisa dengan konsep tiketing atau donasi atau free. Tapi memang belum kami lakukan sampai sekarang.

Padahal penggemar Jikustik banyak. Termasuk yang sukses….

Hehehe… ya belum tahu nanti. Akan kami lakukan atau tidak. Masih baru obrolan ringan, belum sampai serius untuk tampil online tersebut.

Banyak personel band yang bersolo karier, atau bikin proyek dengan musisi lain. Tidak tertarik?

Kalau proyek yang kecil gitu ada sih. Tapi memang belum tergarap serius.

Sekadar untuk pergaulan? Bukan cari uang?

Sekadar gaul, sekadar refreshing. Refreshing dari sisi musik, karena yang dimainkan aransemen di luar kebiasaan saat bersama Jikustik. Hehehe….

Dari 1996 hingga kini masih di Jikustik. Kiat awetnya?

Kalau saya pribadi, saya berjuang bersama Jikustik sejak awal. Kami dari latihan hingga membuat demo rekaman lagu saja, itu perjuangan banget. Sampai akhirnya bisa diterima label. Untuk saya, perjalanan dan perjuangan Jikustik dari awal itu yang membuat saya masih tetap bertahan. Dan saya berterima kasih pada Jikustik yang masih bisa menghidupi saya sampai sekarang. Saya sangat bersyukur.

Obsesi terkait musik?

Konser musik di Indonesia bisa menjadi seperti konser di luar negeri. Dari segala sisinya. Dari persiapan, tim produksi, kualitas sound, panggung, lighting, dan lain-lain. Jadi kami bisa merasa sangat nyaman saat bermain di panggung. Sampai saat ini saat beda event, pasti beda kualitasnya, persiapan, dan lainnya. Karena memang masih banyak penyelenggara event yang belum mengetahui atau menguasai standarisasi pertunjukan. (Latief Noor Rochmans)

BERITA REKOMENDASI