‘Cat Calling’ Wisatawan Perempuan di Malioboro Tak Boleh Terjadi Lagi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Yogyakarta menyayangkan dugaan aksi pelecehan terhadap seorang pengunjung di kawasan wisata Malioboro Kota Yogyakarta oleh sejumlah oknum petugas Jogoboro. Forpi berharap hal tersebut menjadi pelajaran berharga bagi seluruh stakeholder dan dipastikan tak lagi terjadi kedepan.

Aksi ‘Cat Calling’ yang dilakukan petugas viral di linimasa sosial media Minggu (7/2/2021) kemarin setelah diunggah akun-akun berpengikut besar. Beberapa oknum Jogoboro langsung ditindak oleh UPT Malioboro dan menuliskan surat pernyataan tak akan mengulangi lagi, lengkap dengan hukuman fisik push up.

Baharuddin Kamba, anggota Forpi Kota Yogyakarta menyayangkan perilaku tidak pantas dan tidak sopan yang dilakukan oleh sejumlah oknum petugas Jogoboro Malioboro terhadap wisatawan. Seharusnya, stakeholder menyadari betul bawasanya Malioboro merupakan wajah Yogyakarta yang tentu akan mendapat sorotan dari berbagai pihak.

“Forpi Kota Yogyakarta berharap kepada pihak UPT Malioboro untuk senantiasa melakukan pembekalan kepada seluruh petugas Jogoboro, guna meningkatkan kapasitas seluruh petugas Jogoboro Malioboro dalam menjalani tugas sehari-hari di kawasan wisata Malioboro itu dan memberikan pelayanan yang prima kepada para wisatawan di Malioboro. Apabila diperlukan evaluasi atas sistem rekrutmen terhadap petugas Jogoboro Malioboro yang selama ini dilakukanagar sikap (attitude), perilaku dan pelayanan yang diberikan petugas Jogoboro Malioboro Kota Yogyakarta ke depannya lebih baik kepada para wisatawan,” ungkap Kamba, Senin (08/02/2021).

Dikalangan warganet sendiri muncul berbagai tanggapan yang di sisi lain menyayangkan cara berpakaian wisatawan yang dinilai mengundang catcalling. Namun begitu menurut Forpi, alasan apapun tetap tak dibenarkan untuk melegitimasi tindakan petugas tersebut.

“Wisatawan yang datang ke Malioboro itu dari berbagai kalangan, sehingga bagaimanapun petugas harus menciptakan suasana aman dan nyaman. Apapun alasannya, kejadian seperti ini tidak boleh terulang kembali,” sambung dia.

Forpi menilai, Jogoboro juga wajib dibekali dengan kemampuan komunikasi yang memadahi sekaligus bisa menempatkan diri menghadapi situasi di lapangan. “Kalaupun hendak mengingatkan, tetap dengan attitude dan gaya bahasa yang baik, seperti bagaimana orang Jogja yang sepenuhnya,” pungkas Kamba. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI