Cegah Masyarakat Tergelincir ke Persoalan Hukum

Editor: Ivan Aditya

KOMUNITAS Muda Pegiat Literasi Media Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta, secara kontinyu melakukan pendampingan terhadap masyarakat agar tidak ‘tergelincir’ ke dalam persoalan hukum, lantaran keliru dalam memanfaatkan media sosial (medsos). Saat ini masyarakat demikian masifnya menjadi objek sekaligus subjek medsos, terutama yang berkaitan dengan informasi dan komunikasi.

Tantangan utama masyarakat dewasa ini adalah penggunaan internet dan media digital yang tidak hanya memberikan manfaat bagi penggunanya, namun juga membuka peluang timbulnya berbagai permasalahan. Kurangnya kecakapan dalam menggunakan gadget dan aplikasi media sosial menyebabkan penggunaan media digital tidak optimal. Di tengah melimpahnya informasi yang ada, penyebaran berita hoaks (berita bohong/tidak benar) seolah bersifat sporadis dan sulit diredam.

Upaya menghentikan berita hoaks dapat dimulai dari diri sendiri, yakni ketika seseorang memahami literasi media digital yang meliputi produksi pesan dengan bijak kemudian mendistribusikan hingga mengetahui konsekuensi bahaya di balik peredaran berita. Singkatnya, masyarakat harus memiliki filter yang kuat untuk menyaring mana berita yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dan mana berita yang ‘asal bunyi’.

Komunitas Muda Pegiat Literasi Media Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta merupakan salah satu di antara beberapa komunitas literasi media yang ada di Yogyakarta. Komunitas ini dikoordinir Novita Ika Purnamasari SIKom MA selaku dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas AMikom Yogyakarta. Komunitas yang berjumlah 11 orang ini merupakan gabungan dosen dan mahasiswa yang peduli literasi media masyarakat.

“Saya mengawali pendampingan literasi media 3 tahun lalu secara personal, menjalin kerja sama dengan beberapa elemen masyarakat kemudian memberikan pelatihan. Ketika saya tawarkan kegiatan ini pada kelompok 3 18IK1, ada 10 orang yang tertarik bergabung hingga akhirnya terbentuk komunitas pegiat literasi media ini,” ujar Novita kepada KRJOGJA.com, Kamis (01/07/2021).

Ada dua fokus pendampingan, yaitu kemampuan menangkal berita hoaks dan pemanfaatan teknologi dalam mendukung keterampilan masyarakat. Tahun lalu (2020) saat awal-awal pandemi Covid-19, keterbatasan tatap muka dengan masyarakat menyebabkan pendampingan literasi media tidak mampu dilakukan secara langsung. Media sosial whatsapp dipilih dalam pendampingan antisipasi peredaran berita hoaks Covid-19 dengan menyasar kelompok pemuda di Ganjuran, Bantul, kemudian berkembang ke wilayah lain di DIY.

Pertimbangan kaum muda sebagai sasaran pendampingan karena keterampilan mereka dalam menggunakan gadget termasuk kecepatan akses berita serta harapan bahwa kalangan muda dapat mengontrol dalam upaya menangkal penyebaran berita hoaks di masyarakat. Kini, orang tua pun tidak mau ketinggalan memanfaatkan media sosial untuk mencari berita, menambah dan memperkuat relasi serta membagikan informasi. Kehadiran media sosial menjadi cara tersendiri bagi orangtua untuk memperkuat komunikasi bersama keluarga dan saudara secara online terlebih dengan kondisi pandemi Covid-19.

Sayangnya, orangtua tidak selalu memiliki kemampuan memfilter berita serta kecakapan literasi media, khususnya bagi orangtua dengan usia lebih dari 45 tahun. Sadar akan hal itu, sasaran literasi media yang dilakukan oleh Komunitas Muda Pegiat Literasi Media Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta pada tahun ini adalah pendampingan literasi media dan keterampilan yang diprioritaskan pada orangtua.

Baru-baru ini, bekerja sama dengan warga RT 37, Dusun Kediwung, Desa Mangunan, Kapanewon Dlingo, Bantul, literasi media dibagi menjadi 3 komponen yaitu tangkal hoaks pada orang tua, pelatihan pemanfaatan media melalui praktek editing video pada pemuda dan bapak-bapak serta pelatihan keterampilan pewarnaan shibori yang menyasar ibu-ibu rumah tangga dan pengelola Bukit Panguk.

Dalam pemanfaatan media digital, orangtua adalah pihak yang paling rentan mendapat dan menyebarkan kembali berita hoaks khususnya di media sosial. Hal ini tidak lain karena seringkali orang tua hanya tahu cara menggunakan media sosial namun tidak paham ciri berita hoaks dan dampak yang timbul dari penyebarannya secara sembarangan.

Anak sekadar mengajarkan orangtua cara menggunakan aplikasi whatsapp tanpa peduli seperti apa konten pesan yang diakses orang tua. Akibatnya, orang tua tidak tahu apakah berita yang didapat dan disebarkan kembali adalah berita benar atau salah. Budaya menyebarkan berita menjadi perilaku yang mudah dijumpai pada orang tua jaman sekarang. Jarang sekali dari mereka memeriksa kebenaran sumber atau isi berita.

“Beberapa waktu lalu, seorang ibu rumah tangga dijatuhi pidana karena menyebarkan berita hoaks terkait pasien Covid-19. Berita tersebut sengaja dibuat agar masyarakat menjadi panik. Belum lagi peredaran berita hoaks seperti konsumsi bawang putih setiap hari dapat mencegah Covid-19 yang sempat viral di kalangan orangtua. Budaya mudah membagikan informasi dari orang tua pada anggota keluarga, atau melalui media sosial ini perlu dikontrol jika tidak ingin terancam pidana. Pasal 45 Undang-Undang Republik Indonesia No.19 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE) jelas menyebutkan ancaman pidana penyebar hoaks yaitu 6 tahun. Tidak tahu berita hoaks bukan lagi menjadi alasan ketika segala bukti mengarah pada kegiatan penyebaran hoaks, bahkan oleh orang tua,” jelas Novita.

Ditambahkan, emosi atau perasaan orangtua biasanya lebih sensitif sementara berita hoaks cenderung menyerang sisi emosi lebih dulu dibanding logika. Berita hoaks dibuat oleh orang pintar namun jahat, yang tidak peduli kebenaran informasi asal masyarakat tahu dan menjadi viral. Bisa juga disebarkan oleh orang yang percaya bahwa informasi itu benar, karena tujuannya macam-macam, mulai dari menjatuhkan nama orang atau kelompok lain, merugikan orang lain, menimbulkan kepanikan atau justru karena iseng saja.

“Berita hoaks yang paling mudah dijumpai saat ini adalah informasi kesehatan seperti pasien Covid-19, transaksi jual-beli online, orangtua yang ditelepon dan dikatakan bahwa anaknya sedang kecelakaan atau sakit, serta hoaks politik,” ujar Dimas Prayoga mewakili Divisi Konten Kreator .

Dalam pelatihan tangkal hoaks, orangtua dikenalkan dengan ciri-ciri berita hoaks, contoh berita, dan langkah yang perlu dilakukan ketika menemukan berita hoaks. Peserta bahkan diajak untuk bermain games membedakan yang mana berita hoaks dan mana yang bukan. Selain pelatihan tangkal berita hoaks, Komunitas Muda Pegiat Literasi Media juga melakukan pelatihan video editing berbagi keterampilan dan mengajarkan strategi pemasaran wisata dengan memanfaatkan video.

“Video yang bagus tidak hanya memuat konten yang menarik tapi editing video juga perlu dikembangkan agar saat diunggah di media sosial, masyarakat menjadi tertarik untuk berkunjung ke sebuah lokasi,” ujar Vian selaku koordinator tim editing.

Menggunakan aplikasi vlognow (VN), komunitas ini memberikan pelatihan dan pendampingan bagi para pemuda desa untuk praktik membuat konten berkualitas berlatih mempromosikannya objek wisata Bukit Panguk dengan lebih masif di media sosial. Bagi pemuda yang belum memiliki gadget yang mendukung aplikasi VN, kelompok mahasiswa ini pun telah menyiapkan handphone yang dapat digunakan untuk praktik editing video.

Komunitas Muda Pegiat Literasi Media Program Studi Komunikasi Universitas Amikom Yogyakarta terdiri dari Novita Ika Purnamasari SIKom MA sebagai Koordinator dan Penanggungjawab, Razan Arvin Pradipta-Alfansyah Chuseni- M Nazmi Ramadhan sebagai Tim Humas, Avian-Rafiq Ahmad sebagai anggota Tim Design, Anung Rifan, Roghaya, Dimas Prayoga, Nisrina dan Annisya sebagai Tim Konten Kreator. (Hrd)

BERITA REKOMENDASI