Cek Kesehatan dan Tes Psikologi Mutlak Bagi Pemohon SIM

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Setiap pengemudi kendaraan bermotor (ranmor) wajib memiliki surat izin mengemudi (SIM), sesuai dengan jenis kendaraannya, mulai dari sepeda motor, mobil, bus, atau truk. Ada dua jenis SIM yang diterbitkan oleh kepolisian, yakni perorangan dan umum. SIM perorangan diperuntukkan untuk pribadi, tidak komersial. Sedangkan SIM umum diperuntukkan bagi pengemudi kendaraan umum atau angkutan.

Kasi SIM Subdit Regident Ditlantas Polda DIY, Kompol Sugiyanto SSos MA, Selasa (16/02/2021) menjelaskan kewajiban mengenai kepemilikan SIM diatur dalam pasal 77 ayat (1) nomor 22 tahun 2009. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa orang yang mengemudikan kendaraan bermotor tanpa SIM akan dipidana paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta.

Mengenai syarat-syarat kepemilikan SIM meliputi kelayakan umur minimal 17 tahun (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk/KTP), hasil cek kesehatan, dan hasil tes psikologi. Setelah memenuhi syarat administrasi, pemohon SIM wajib menjalani ujian teori dan praktik sebagai pelengkap bahwa yang bersangkutan sudah layak mengemudian kendaraan bermotor. “Semua persyaratan tersebut harus dipenuhi pemohon SIM.” tandas Sugiyanto.

Khusus untuk SIM B1, B2, A Umum, B1 Umum, dan B2 Umum, pemohon SIM harus menyertakan sertifikasi uji kelayakan dari LPK yang direkomendasikan pihak kepolisian dan sertifikat klinik pengemudi (klipeng) yang diterbitkan Ditlantas Polda DIY. Sertifikasi dari LPK dan klipeng harus dimiliki bagi pemohon SIM baru, SIM perpanjangan, maupun SIM hilang. “Sertifikasi dari LPK dan klipeng yang diterbitkan Ditlantas Polda DIY masa berlakunya hanya enam bulan,” jelas Sugiyanto.

Klipeng merupakan salah satu dokumen yang digunakan oleh pemilik kendaraan yang ingin mendapatkan SIM denga sifat pengalihan atau peningkatan status. Selain diwajibkan bagi pemohon SIM baru, klipeng juga disyaratkan bagi pengemudi yang berniat memperpanjang masa berlaku SIM.

Sugiyanto menjelaskan klipeng hanya diterbitkan oleh Ditlantas Polda DIY, sebagai pelengkap ketika seseorang hendak memohon SIM B1, B2, A Umum, B1 Umum, dan B2 Umum di masing-masing wilayah jajaran Polda DIY. Sebelum mengajukan permohonan klipeng, seseorang harus pula menjalani cek kesehatan dan tes psikologi.

Hal itu untuk memastikan kondisi kesehatan jasmani (cek kesehatan) dan kesehatan rohani (tes psikologi). Selain itu, pemohon klipeng harus menjalani uji simulator, sebelum diterbitkannya klipeng. Menurut Sugiyanto, dua hal tersebut sangat mutlak bagi pengemudi kendaraan bermotor, menyangkut kestabilan kondisi fisik dan mental saat berkendara.

Menyangkut pengalihan status atau peningkatan jenis SIM, bisa dilakukan setelah masa tenggat satu tahun kepemilikan SIM. Karena itu, sebelum masa tenggat waktu terpenuhi, tidak bisa dilakukan pengalihan atau peningkatan SIM. Hal tersebut tertera dalam pasal 29 Nomor 9 tahun 2012 tentang ketentuan Surat Izin Mengemudi (SIM). “Masalah kepemilikan SIM terkait erat dengan tiblantas dan sebagai upaya mengurangi kecelakaan lalu lintas,” tandas Sugiyanto. (Hrd)

BERITA REKOMENDASI