Celeng Binatang yang Pandai

Editor: Ivan Aditya

PERISTIWA celeng mengamuk di lereng Gunung Slamet wilayah Kecamatan Kedungbanteng Banyumas hingga melukai lima orang dan bahkan seorang diantaranya tewas mengundang keprihatinan. Alam dan manusia yang semestinya bisa hidup berdampingan namun justru melahirkan sumber petaka.

Banyak perkiraan muncul dibalik fenomena ngamuknya celeng alias babi hutan tersebut. Teori paling kuat yakni stok makanan di tengah hutan yang telah menipis sehingga celeng memilih keluar menuju ke permukiman warga. Selain itu hilangnya predator di atas babi hutan dalam rantai makanan juga dituding jadi alasan mengapa binatang ini keluar hutan.

Baca juga :

Korban Serangan Celeng Bertambah Jadi Lima Orang
Celeng Gunung Slamet Ngamuk, 4 Warga Terluka
Innalilahi..Korban Srudukan Celeng Gunung Slamet Meninggal

Dibalik itu semua, celeng sebenarnya merupakan bintang yang pandai. Seperti satwa liar pada umumnya, babi hutan memiliki agresifitas yang tinggi terutama bilamana berhadapan dengan manusia.

Babi hutan memiliki nama ilmiah Sus Scrofa yang merupkaan nenek moyang babi liar yang kemudian menurunkan babi ternak. Binatang ini merupakan omnivora atau pemakan segalanya yang berburu mangsa baik pada siang maupun malam hari.

Daerah penyebaran celeng di hutan-hutan Eropa Tengah, Mediterania (termasuk Pegunungan Atlas di Afrika Tengah) dan sebagian besar Asia hingga paling selatan di Indonesia. Di Indonesia populasi binatang ini hampir merata di seluruh hutan.

Secara morfologi satwa ini mempunyai rambut berwarna hitam, namun ada juga yang berwarna hitam kemerah-merahan. Pada masing-masing sudut mulutnya memiliki rambut yang lebih tebal, ekornya tidak berambut dan lurus.

Pada babi hutan betina bagian dadanya memilki lima pasang kelenjar susu. Babi hutan yang baru lahir, memilki kulit yang berwarna coklat gelap atau kehitaman dengan garis putih yang memanjang secara longitudinal di sepanjang tubuhnya.

Gigi taring pada babi hutan tidak memiliki akar gigi dan tumbuh besar pada individu jantan. Pada gigi taring atas dan bawah dapat tumbuh melengkung keluar dan dapat berfungsi sebagai pertahanan terhadap predator maupun hewan lainnya.

Individu jantan dewasa hidup secara sendiri (soliter), kecuali pada saat musim kawin. Babi hutan memiliki penglihatan yang kurang baik, namun memiliki penciuman yang sangat tajam.

Aktivitas berkubang memiliki beberapa peranan penting dalam kelangsungan hidup satwa ini, fungsinya adalah untuk menghindari gangguan serangga. Karakteristik kubangan dan aktivitas berkubang pada babi hutan dapat menunjukan kemampuan hewan ini beradaptasi dengan habitatnya.

Babi hutan termasuk satwa mendapat perhatian dari pemerintah. Pasal 1 ayat (1) b dan pasal 5 ayat (5) UU Pemburuan Jawa dan Madura tahun 1940 mengatur, untuk berburu babi hutan tetap harus memiliki akta berburu dan dan izin berburu.

Namun, namun dalam Pasal 6 ayat (2) Menteri Pertanian melalui Direktorat Jendral Kehutanan bisa mengeluarkan surat perintah berburu babi hutan, untuk kepentingan seleksi terhadap babi hutan yang sangat tua dan berpenyakit atau karena pengembangbiakkannya yang melebihi keseimbangan. (*)

BERITA REKOMENDASI