Cendekiawan yang Dikenal Kritis Terhadap Penjajah

WAJAH Pahlawan Nasional dr Tjiptomangunkusumo diabadikan dalam uang logam rupiah baru pecahan Rp 200. Masyarakat Indonesia mengenalnya sebagai tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hadjar Dewantara, ia dikenal sebagai 'Tiga Serangkai' yang banyak menyebarluaskan ide pemerintahan sendiri dan kritis terhadap pemerintahan penjajahan Hindia Belanda.

Tjiptomangunkusumo yang lahir 4 Maret 1886 di Pencangaan Jepara, adalah tokoh dalam Indische Partij, organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda. Pada 1913 ia dan kedua rekannya diasingkan oleh pemerintah kolonial ke Belanda akibat tulisan dan aktivitas politiknya, dan baru kembali 1917.

Tjipto menikah dengan seorang warga keturunan pengusaha batik, sesama anggota organisasi Insulinde, bernama Marie Vogel pada 1920. Berbeda dengan kedua rekannya dalam 'Tiga Serangkai' yang mengambil jalur pendidikan, Tjipto tetap berjalan di jalur politik dengan menjadi anggota Volksraad. Karena sikap radikalnya, pada 1927 ia dibuang oleh pemerintah penjajahan ke Banda. Ia wafat 8 Maret 1943 pada umur 60 tahun dan dimakamkan di TMP Ambarawa.

Ketika menempuh pendidikan di Stovia, Tjipto dinilai sebagai pribadi yang jujur, berpikiran tajam, dan rajin. Para guru menjuluki Tjipto sebagai 'een begaald leerling' atau murid yang berbakat. Ia membuat tulisan-tulisan pedas mengkritik Belanda di harian De locomotive dan Bataviaasch Nieuwsblad sejak 1907. Tjipto menyambut baik kehadiran organisasi Boedi Oetomo. Namun, Tjipto menginginkan Boedi Oetomo sebagai organisasi politik yang harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi semua rakyat Indonesia. Hal ini menimbulkan perbedaan antara dirinya dan pengurus BO lainnya. Tjipto lalu mengundurkan diri dan membuka praktik dokter di Solo. Ia pun mendirikan RA Kartini Klub yang bertujuan memperbaiki nasib rakyat.

Ia kemudian bertemu Douwes Dekker dan bersama Suwardi Suryaningrat mereka mendirikan Indische Partij pada 1912. Tjipto selanjutnya pindah ke Bandung dan aktif menulis di harian De Express. Menjelang perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dan Prancis, Tjiptomangunkusumo dan Suwardi mendirikan Komite Bumiputera sebagai reaksi atas rencana Belanda merayakannya di Indonesia.

Aksi Komite Bumi Putera mencapai puncaknya pada 19 Juli 1913, ketika harian De Express menerbitkan artikel Suwardi Suryaningrat yang berjudul 'Ais ik Nederlands Was' (Andaikan Saya Seorang Belanda). Tjipto kemudian menulis artikel yang mendukung Suwardi keesokan harinya. Akibatnya, 30 Juli 1913 Tjipto Mangunkusumo dan Suwardi dipenjara. Melihat kedua rekannya dipenjara, Douwes Dekker menulis artikel di De Express yang menyatakan keduanya pahlawan. Pada 18 Agustus 1913, Tjipto Mangunkusumo bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker dibuang ke Belanda. (Dev)

 

BERITA REKOMENDASI