Cengkeraman Kapitalis Matikan Pasar Tradisional

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Dalam sorotan cahaya, tampak sosok pria setengah baya mengenakan topi pet merah dan baju batik merah marun. Langkahnya khas. Seperti digagah-gagahkan meski begitulah memang karakternya. Yang menarik dan membikin iri, dengan mesranya ia menggandeng dua wanita cantik, putih dan tinggi di kanan kirinya. Makin aduhai dua wanita tersebut berpakaian yang cukup seksi.

Begitu terlontar kata, ‘kesempatan’, dengan nada dan suara khas tampaklah sosok pria itu Khocil Birawa. "Lagi pisan iki diplekotho," lanjut Khocil di awal penampilannya dalam pentas monolog 'Genderuwo Pasar Anyar' di Gedung Societet TBY, Kamis (15/09/2016) malam.

"Sebentar lagi saya akan memerankan sosok Murwat, penjaga malam dan tukang sapu di Pasar Kliwon. Doakan saya kuat," lanjut Khocil yang juga wartawan SKH Kedaulatan Rakyat ini.

Kendati sudah cukup berumur, tapi ternyata performa Khocil masih luar biasa. Deretan peran yang harus dijalaninya, baik sebagai Murwat maupun Eyang Dono Driyah mampu dimainkannya dengan baik.

Lakon tersebut mengisahkan tragedi Murwat, penjaga malam dan tukang sapu di Pasar Kliwon yang nasibnya sama antara keduanya. Pasar tradisional yang ia bela harus tergencet pasar moderen dengan dukungan kapitalis. Hingga akhirnya Pasar Kliwon terbakar dan Murwat yang disalahkan.

Murwat harus menjalani proses interogasi yang menyakitkan karena penuh siksaan. Dengan pakaian compang-camping, Murwat dimasukkan ke dalam bui. Saat adegan ini, penjiwaan peran yang dilakoni Khocil begitu apik. Bahkan ia harus berperan dobel, sebagai Murwat dan Eyang Dono Driyah.

Namun ternyata, berdasar Dono Driyah yang menjadi penguasa pasar dan meninggal ratusan tahun lalu diketahui pasar tersebut sudah dikuasai genderuwo yang tidak bisa dikalahkan. Inilah gambaran dari kekuatan kapitalis yang mengalahkan pasar tradisional dan menindas wong cilik. Dari pentas inilah gambaran kondisi terkini bisa dilihat. Hilangnya ekonomi kerakyatan beralih ke ekonomi kapital.

Suasana pementasan monolog garapan sutradara Toelis Smero dengan naskah Indra Tranggono ini makin apik dengan iringan musik Gank-X. Tiap pengadegan menjadi sangat jelas penggambaran yang ingin dihadirkan, entah itu sedih, gembira dan suasana dilingkupi kemarahan.

Khocil Birawa sendiri merupakan wartawan di Kedaulatan Rakyat sekaligus seniman. Ia merupakan jebolan Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) Yogyakarta, pernah bermain dalam beberapa film, sinetron, FTV, ketoprak dan lainnya. (R-7)

BERITA REKOMENDASI