Cerita Alvin Mahasiswa ISI, Mulai Mencintai Musik Tradisi Hingga Berprestasi

YOGYA, KRJogja.com – Alvin Arnando, Mahasiswa Institut Seni Indonesia Yogyakarta (ISI Yogyakarta) menjadi juara terbaik 1 (satu) aransemen musik tradisi se- Sumatera Selatan dalam acara Festival Sriwijaya ke- XXIX dengan mengangkat tema “Harmoni Sumsel dalam Gelora Sriwijaya”, yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan.

Alvin Arnando sendiri dalam pagelaran tersebut mewakili salah satu kabupaten yang ada di Sumatera Selatan, yaitu kabupaten Ogan Komering Ulu Timur.

Awalnya Alvin Arnando merasa kaget dan tidak menyangka mendapatkan gelar juara tersebut. Namun, ia sendiri sudah begitu menebak kalau akan mendapatkan gelar juara pada nominasi aransemen musik tradisi. Tetapi, ia tidak menyangka bahwa akan mendapatkan juara terbaik 1 (satu).

“Awalnya saya kaget karena mendapatkan gelar juara itu. Apalagi tanggungjawab yang harus dibawa setelah mendapatkan gelar juara tersebut. Namun, di luar itu semua
Ia mengatakan demikian bukan tanpa alasan. Ia yang telah menempuh Pendidikan di ISI Yogyakarta dengan berbagai bekal dan pembekantukan mental, dan dengan ditambah jam terbang yang lumayan banyak untuk megasah potensi yang ada di dalam dirinya. Jadi, hal tersebut bisa menjadi beberapa alasannya kenapa ia pantas mendapatkan gelar juara tersebut.
Awal perjalanan di dunia seni khsusunya bidang musik merupakan hobi. Hobi utu tumbuh sejak SMP kelas 1 (satu).

Awal mengenal musik Alvin Arnando sudah begitu dominan, ia sempat membuat band sekolah bersama teman-temannya. Lagi-lagi itu adalah cetusan darinya untuk membuat grup band.

Awal mula terjun di dunia musik tradisi, Alvin Arnando belajar satu pola gitar, yaitu dengan memainkan pola gitar tunggal. Gitar tunggal sendiri merupakan ciri khas dari tanah kelahirannya, yaitu Melayu.

Kecintaannya dan keingintahuannya terhadap musik tradisi semakin terlihat ketika ia mulai menginjak bangku kuliah. Ia akhirnya memilih ISI Yogyakarta dengan prodi atau jurusan Etnomusikologi (ilmu yang mempelajarai tentang music tradisi).

Namun, perjalanan Alvin Arnando tidak semudah yang dibayangkan. Dia pernah ditolak ISI Yogyakarta pada tahun pertama kelulusannya di bangku SMA, yaitu tahun 2017. Berdiri sendiri ketika dihantam kepiluan bukanlah hal yang mudah. Melihat teman-teman yang sudah diterima di kampus keinginan adalah hal yang menyayat hati. Sempat bingung harus bagaimana, tetapi karena tekad yang luar biasa, doa yang selalu ia panjatkan, dan semangat yang membara, akhirnya Alvin Arnando diterima di ISI Yogyakarta pada tahun kedua, tahun 2018.

Ketika sedang dalam kondisi kalut dan diterpa badai, Tuhan mempertemukannya dengan Kake Kholis dari Kalimantan. Nasib yang membawanya bertemu dengan Kake Kholis membuka jalan terang untuk dia masuk di ISI Yogyakarta, sehingga ia bisa mewujudkan mimpinya. Kake Kholis juga menjadi salah satu alasan kenapa dia memilih gambus untuk menjadi alat musik pilihannya. Bisa dibilang Kake Kholis adalah gurunya dalam bermain gambus. Dalam berkecimpung di dunia seni.

Dari perjalanannya itulah yang membawanya lebih cinta dengan musik-musik tradisi atau kebudayaan Indonesia. Ia bertemu dengan orang-orang hebat yang membawanya sampai pada titik sekarang ini.

”Kita boleh mengikuti zaman, tetapi bukalah mata kita lebar-lebar bahwa sebenarnya kita itu begitu kaya. Begitu banyak kebudayaan dan kesenian (khususnya musik). Lantas kenapa kita begitu berbangga diri dengan musik-musik dari budaya luar?” Ujar Alvin Arnando di Yogyakarta, Selasa, (30/11/21).

Banyak cara ketika kita ingin membawa musik tradisi di zaman yang serba digital ini. Di zaman yang penuh dengan kemajuan. Itu adalah tugas pelaku seni. Harus mampu mengombinasi musik tradisi dengan musik modern.

“Jadi, cintailah budaya sendiri sebelum kita mencintai budaya orang lain. Pelajarilah dahulu budaya kita, sebelum kita mempelajari budaya orang lain.” Imbuhnya dalam wawancara singkat, Selasa, (30/11/21).

BERITA REKOMENDASI