Cerita dr Tirta Sempat Menolak Vaksin dan Alasan Sri Purnomo Positif Covid-19

YOGYA, KRJOGJA.com – dr Tirta Mandira Hudhi menjadi salah satu pembicara dalam seminar online “Berbagi tentang Vaksinasi: Positif setelah Vaksin Covid-19“ yang digagas Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Siberkreasi dan Tim Komunikasi Publik Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi (KPCPEN), Rabu (27/1/2021). Tirta berbagi cerita menarik mulai alasan sempat menolak vaksin hingga alasan rasional mengapa Bupati Sleman, Sri Purnomo bisa positif setelah divaksinasi.

Tirta mengaku pada bulan September lalu ia sempat menolak vaksin Covid-19 karena uji klinis yang belum keluar secara resmi. Pemerintah pun sempat dikritiknya karena dirasa terlalu cepat mengkampanyekan vaksinasi padahal belum bisa memastikan safety issue yang begitu penting untuk keamanan masyarakat.

“Saya di bulan September sempat melawan, menolak vaksin, karena uji klinis belum keluar dan terlalu dini edukasinya di bulan itu. Vaksin itu intinya memastikan keamanan untuk rakyat artinya safety issue harus bagus. Tapi kemudian keluar ijin EUA oleh BPOM. Ini yang harus dipastikan dulu, sebagai nakes saya harus memastikan Sinovac terbuat dari apa, Pfizer dari apa, karena itu jadi masalah di Indonesia. Banyak orang-orang yang membandingkan satu vaksin dengan lainnya,” ungkap Tirta.

Membandingkan efikasi Sinovac dan merk lain pun sempat menjadi isu panas di Indonesia. Masyarakat pro vaksin dan anti vaksin pun menggoreng isu-isu tersebut hingga terbentuklah pro dan kontra di masyarakat.

“Sampai kapanpun efikasi Sinovac akan di bawah Pfizer dan Moderna itu karena Sinovac menggunakan RNA innactive kalau Pfizer menggunakan komponen kecil dari virus dinamakan RMRNA atau protein spike. Protein ini belum diketahui dampak jangka panjangnya, apakah menimbulkan alergi juga. Nah mau ga mau kita main aman jika mengejar kecepatan untuk herd immunity, ya dengan Sinovac. Saya minta vaksin ini gratis, agar edukasinya gampang, karena saat ini sentimen anti vaksin dominan dilihat dari sosial media. Ini bentuk pembangkangan karena tidak percaya dengan pemerintah karena sudah sampai burn out, kelelahan secara psikis,” lanjut Tirta.

BERITA REKOMENDASI