Cerita ‘Nagasasra Sabuk Inten’ Jadi Kajian Ilmiah

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Cerita silat bersambung Naga Sasra dan Sabuk Inten (NSSI) karya SH Mintardja yang dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat sejak 1964- 1968, hingga kini masih menarik perhatian. Beberapa kali menjadi bahan kajian karya tulis ilmiah. Di antaranya menjadi bahan disertasi Teguh Supriyanto pada program S3 Ilmu Sastra, Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa tahun lalu.

Supriyanto memfokuskan penelitian pada praktik hegemoni kekuasaan Jawa yang relevan dengan kondisi saat itu. Terdapat kesamaan peristiwa dalam teks naskah dan di luar teks.

”Memiliki kesamaan waktu antara dalam penerbitan cerita di dalam teks dan di luar teks. Kesamaan ceritanya dalam peristiwa politik peralihan kekuasaan Demak ke Pajang, dan di luar (teks) kekuasaan orde lama ke orde baru. Kesamaan pertentangan antar aliran dan ideology. Di luar teks pada (tahun) 64-68 terjadi peralihan orla dan orba ndilalah sama. Ada persoalan ideologi, kapitalisme, aliran agama (pada saat itu),” jelasnya pada Serial Seminar Nasional Sastra via daring, Selasa (16/02/2021).

Supriyanto mengatakan cerita NSSI mengandung tanda-tanda hegemonik yang berkaitan dengan kekuasaan Jawa dalam arti luas, bukan saja ketaatan pada Raja selaku penguasa tradisi dan budaya, tetapi juga penguasa pada era modern. “Melalui mitos hegemonik dapat menemukan common sense dan karenanya masyarakat baik secara sadar maupun tidak sadar menjadikan ideologi yang ada dalam NSSI dianggap sebagai kebenaran umum sehingga dipandang sebagai hal yang seharusnya,” jelasnya.

Sumber cerita berasal dari teks-teks babad dan wayang. Adapun sumber utama cerita berasal dari teks Babad Tanah Jawi. Cerita tersebut kemudian ditransformasikan ke dalam teks NSSI yang memperlihatkan ideologi ke arah hegemoni melalui praktik negosiasi dan relasi antar ideologi.

Adapun karya tersebut bercerita tentang pertarungan pendekar yang baik budi dan kelompok orang jahat. Dengan tokoh utamanya Mahesa Jenar, bekas perwira kesatuan Nara Manggala atau pasukan pengawal raja.

Di akhir cerita, Mahesa mencari dua keris pusaka kerajaan yang dicuri dan berhasil merebut keduanya kembali dari para pendekar, akhirnya keris Naga Sasra dan Sabuk Inten dia persembahkan kepada Sultan Trenggono. Sementara, Aprinus Salam dari Fakultas Ilmu Budaya UGM mengatakan cerita silat menjadi bagian instrumen ideologi. Hegemoni bukan cara, tetapi semacam hasil dari proses mengelola hukum alam dalam bentuk cerita.

“Konstruksi kekuasaan, praktik kekuasaan, dan mereka yang dulu (berada) dalam sistem kekuasaan itu, semua terhegemoni. Bedanya dalam posisi yang berbeda-beda, (bagaimana) mereka mengelola,” jelasnya.

Dia mengatakan hegemoni membutuhkan waktu dan proses yang panjang. Para pemikir jaman dahulu sudah mempersoalkan bahwa manusia dibagi 3 golongan yakni satria, para pekerja, dan para pelayan. Partisi sosial tersebut dianggap sebagai takdir sehingga harus diterima.

“ereka yang percaya dengan kondisi itu. Partisi sosial itu dianggap sebagai takdir, jadi ketika kita lahir, terlepas dari analisis struktur sosial ya. Misal nasib saya begini lah,” imbuhnya. (M-1)

BERITA REKOMENDASI