Cerita Prasetyo Sugianto, Kiper PSIM yang Nyaris Jadi Striker di Kompetisi Liga Dunhill

Editor: Agus Sigit

Namun akhirnya, pelatih saat itu memutuskan tak jadi mengambil langkah tersebut. Beberapa pertimbangan diambil, hingga akhirnya Pras tak jadi bermain sebagai penyerang.

“Saat itu mau main home di Mandala Krida, itu kalau jadi saya main tidak tahu kalau misalnya main jelek atau tidak sesuai harapan. Hampir sekali itu dimainkan,” lanjutnya tertawa.

Pada musim 1994-1995 itu, PSIM akhirnya terdegradasi ke Divisi I. Persaingan dengan klub-klub Galatama wilayah Timur dirasa begitu berat karena pengalaman para pemain yang berbeda.

Ingatan Pras pun kembali saat PSIM dijamu Persebaya di tahun tersebut. Pada putaran sebelumnya, seorang suporter Persebaya meninggal dunia di Mandala Krida yang membuat partai di 10 November sangat panas dengan teror luar biasa dari Bonek.

“Kami saat itu tidurnya di Gresik, karena takut kalau terjadi apa-apa ketika berada di Surabaya. Benar, di stadion itu kami dilempari sepanjang pertandingan dan wasit akhirnya menyudahi pertandingan sebelum 90 menit karena situasi tidak kondusif. Kita kalah saat itu tapi tipis,” tandas pria yang kini menjadi pelatih kiper ini.

Pada musim itu, tim PSIM harus menjalani beberapa tur luar pulau hingga berminggu-minggu. Pasalnya, jadwal pertandingan dipusatkan untuk membantu tim baik dari Jawa maupun luar Jawa untuk menghemat ongkos perjalanan.

“Kita di Kalimantan itu main empat kali, di Balikpapan, Samarinda, Banjarmasin dan Bontang. Nanti begitu juga tur Makassar sambung ke Jayapura melawan Persipura. Begitu memang jadwalnya, jadi kita kalau keluar itu bisa berminggu-minggu,” kenangnya.

Pengalaman-pengalaman itu masih terus diingat Pras sampai kini. Sepenggal kisah dadi perjalanan panjang 15 tahun lebih karier di dunia sepakbola nasional. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI