Cerita Suyatno Pemilik Angkringan AKYT, Pantang Menyerah Dimasa Pandemi

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRjogja.com – Yogyakarta dan angkringan merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan, keduanya berpadu menjadi sebuah rasa yang membawa kehangatan. Penyair Joko Pinurbo pun mengatakan bahwa “Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.”

Dikenal sebagai kota pelajar, membuat kota ini di setiap sudutnya dipenuhi hiruk pikuk mahasiswa. Ibaratnya mahasiswa dan angkringan telah menyatu menjadi magnet, dengan kata lain tak dapat lepas satu sama lain. Seperti angkringan yang terletak di Tamantirto, Kasihan Bantul ini, disebutnya angkringan AKYT.

Hari-hari angkringan AKYT dipenuhi perbincangan para mahasiswa, omong-omong AKYT sendiri merupakan singkatan dari Angkringan Kang Yatno. Yatno diambil dari nama pemilik angkringannya yaitu Bapak Suyatno. Angkringan AKYT berdiri sejak tahun 2015, perjalanannya yang sudah menginjak usia 6 tahun mengisahkan suka duka dalam perkembangannya.

Suyatno pemilik angkringan AKYT membeberkan sebelum singgah di lapak yang sekarang. Awal merintis usaha angkringan, ia ikut menggelar lapak angkringan di tanah milik orang. Namun, setelah beberapa lama pemilik tanah sendiri hendak memakainya sehingga ia diharuskan pindah, sampai akhirnya menemukan tempat yang sekarang.

“Ya Alhamdulillah, untuk tempat nyamanan yang sekarang karena untuk parkir kendaraan motor kan juga luas,” ungkap Suyatno pada Jumat (20/08).

Suyatno menceritakan bagaimana perjalanan awal mendirikan usaha angkringan.

“Dulu berpikiran mahasiswa kalau pada jajan gak usah di tempat yang mewah, hingga akhirnya inisiatif untuk membuka angkringan. Awalnya saya tidak tahu bagaimana cara merintisnya, akhrinya saya tanya ke teman bagaimana langkah awal yang harus saya lakukan untuk membuka angkringan. Pada saat itu modal pertama Rp 600.000 yang diberi oleh anak saya untuk belanja segala macam. Permulaan dulu pun gerobaknya masih nyewa 1 bulan Rp 150.000, Alhamdulillah sekarang sudah punya sendiri.”

Angkringan AKYT yang dihiasi dengan perbincangan mahasiswa, tidak menutup kemungkinan di masa pandemi ini penghasilannya menurun. Suyatno menyatakan penghasilan dari angkringannya menurun hampir 50 % di masa pandemi .

“Sehari dapat penghasilan sekitar Rp 300.000 – Rp 400.000, tetapi ya gak apa-apa yang terpenting dapat tercukupi untuk kebutuhan. Kalau pun PPKM akan diperpanjang lagi saya tak permasalahkan itu, karena rezeki sudah diatur Allah yang penting kita jangan pantang menyerah untuk berusaha dan berdoa”

Kenyamanan yang diciptakan di angkringan AKYT membuat para mahasiswa tidak hanya sekadar menyantap menu yang disajikan, namun lebih dari sekedar itu AKYT terisi senda gurau mahasiswa. Apalagi fasilitas yang disediakan di angkringan AKYT dilengkapi dengan free WiFi, sehingga membuat betah mahasiswa untuk nongkrong.

Kisah perjalanannya dengan angkringan yang sudah berlangsung 6 tahun telah membuat jiwa Suyatno menyatu dengan angkringan, ia tak bisa dipisahkan dengan angkringan. “Harapan untuk kedepannya pokoknya ya tetap angkringan, tidak akan mengubahnya karena sudah menjiwai gitu lho,” pungkasnya.

Oleh : Shahara Imara Id’ha
(Mahasiswi Komunikasi dan Konseling Islam – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

 

BERITA REKOMENDASI