Cerita Warkop Semesta, Kursi Khusus Pelanggan hingga Tutup Usai Pemilik Meninggal Dunia

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Industri kuliner di Yogyakarta kerap diibaratkan sebagai hutan belantara, yang punya cara sendiri untuk menentukan hidup ekosistem di dalamnya. Kafe, ruang makan, warung kopi hingga berbagai usaha kuliner tumbuh, berkembang namun tak sedikit yang mati dalam hitungan bulan, bukan tahun.

Tak heran bila kemudian, ruang kuliner yang bisa bertahan lebih dari lima tahun mendapat porsi perhatian tersendiri dari kalangan penikmat kuliner Yogyakarta. Salah satu yang beberapa waktu ini menjadi perhatian, yakni warung kopi (warkop) Semesta yang dahulu ada di Jalan Abu Bakar Ali, Kotabaru.

Semesta ramai dibicarakan di sosial media beberapa hari terakhir. Banyak yang mempertanyakan mengapa warkop ikonik tersebut tutup dan bahkan saat ini tampak terbengkalai, meski tempatnya masih sama seperti dahulu.

Rizki Kebo Kurniawan, salah satu karyawan yang menjadi saksi hidup perjalanan Semesta sejak 2010 hingga 2017 itu mengkisahkan. Kebo, begitu ia akrab disapa menceritakan awal mula Semesta berdiri yang ternyata hasil kolaborasi pemilik rumah lokasi warkop dengan pelanggan dan Blandongan.

“Semesta ada dan mulai beroperasi itu 12 Februari 2010. Menariknya, Semesta ada karena memang pelanggan yang meminta, bukan karena pemilik warung. Dulu pelanggan sudah punya warung andalan di Jalan Kaliurang, tapi sering ke Kotabaru juga karena mereka banyak yang bergerak bidang musik di Yogya. Mereka ingin ada warung di tengah kota,” ungkap Kebo ketika berbincang, Sabtu (22/5/2021).

Semesta menurut Kebo pada awalnya bermula dari kerjasama dari pemilik lahan yakni almarhumah Sri Rosdiyah, pemilik rumah dengan penyelenggara warung Blandongan. Pada periode 2010-2011, Semesta diakui lebih mirip warung apa adanya, yang mana terpenting ada tempat dan waktu dengan kopi dan makanan.

“Suasana belum ramai saat itu, hanya pelanggan biasa saja karena sebelumnya memang di sini ada yang namanya Kinoki, itu bergerak di bidang audio visual begitu. Jadi banyak pelanggan yang memang bergerak di bidang itu,” sambung Kebo.

Kerjasama dengan Blandongan berakhir pada 2011 dan Semesta akhirnya dikelola pemilik bersama pelanggan hingga akhirnya berani beroperasi 24 jam. Semesta diperluas, dengan daya tampung lebih banyak dan kehidupan kesemestaan yang lebih luas lagi.

“Suasana pekarangan rumah tetap kita pertahankan ya adanya kursi meja dengan tanaman hias rumahan, begitu saja tanpa ada yang dipaksakan. Jadi ya konsumen itu layaknya berada di rumah begitu saja, mungkin itu yang membuat kerasan juga,” imbuhnya.

Mulai medio 2014 hingga 2017, Semesta diakui Kebo menemui titik puncak. Dalam sehari di momen hari kerja, paling sedikit 1.500 transaksi pembelian minum dihasilkan warkop tersebut.

Menu andalan kopi hitam dan coklat panas nyatanya begitu digemari konsumen dari berbagai kalangan. “Tahun-tahun itu, kalau weekend itu 2000-3000 porsi minuman tercatat di mesin kasir setiap hari. Jadi memang luar biasa sekali,” sambungnya tersenyum.

Ada hal menarik yang menurut Kebo selalu terkenang hingga kini. Semesta diawali dari keinginan pelanggan sehingga sebagian besar pembeli saling mengenal satu sama lain, ada relasi tercipta di warkop itu.

Tak hanya itu, ada pula dua meja yang selalu dipesan pada jam tertentu oleh pelanggan tetap, dengan sajian yang juga rutinitas harian. “Ada namanya Mas Gufi dan Mas Alex yang harus duduk di meja mereka sesuai jam yang mereka mau. Jadi dulu setiap hari jam 3 sore kita siapkan meja untuk Mas Alex dengan kopi hitamnya dan jam 4 di meja lain harus siapkan untuk Mas Gufi lengkap dengan kopi tanggungnya. Seperti itu setiap hari yang terjadi, menarik,” kenangnya terkekeh.

Kebo sendiri akhirnya memutuskan undur diri dari Semesta pada akhir 2017. Ia mempertimbangkan kesehatan pemilik yakni Sri Rosdiyah yang memang sudah sepuh.

“Saat itu saya berpikir karena pemilik Bu Sri sudah sepuh, biar beliau istirahat. Semesta sudah lebih dari cukup, mencapai target dan kalau harus berakhir saya ikhlas dan mengundurkan diri. Tapi memang kemudian ibu masih berjuang sampai 2019 hingga beliau meninggal dunia pada Januari 2020,” lanjutnya.

Kebo menyebut tidak ada permasalahan yang terjadi hingga Semesta memutuskan untuk tutup. Para karyawan Semesta kemudian banyak bekerja menginisiasi ruang makan lain seperti Linglung, Silol dan Legend Cafe.

“Selepas ibu (Sri) tidak ada memang tidak ada lagi yang mewarisi visinya. Jadi ya Semesta memutuskan tutup. Saya menyampaikan terimakasih pada siapapun yang pernah mampir ke Semesta,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI