Civitas UGM Hadirkan Fiksi Ilmiah Lewat Film ‘Tengkorak’

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Jumat (8/12) merupakan hari terakhir gelaran 12nd JAFF Jogja-Netpac Asian Film Festival. Bertempat di gedung Societed Taman Budaya Yogyakarta, pada pukul 10.00 WIB diputar film Tengkorak untuk kedua kalinya dalam agenda JAFF tahun ini.

 

Tengkorak merupakan film bergenre fiksi ilmiah karya Yusron Fuadi, salah satu dosen muda Sekolah Vokasi (SV) Univeristas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Yusron menjadi sutradara sekaligus salah satu pemeran utama dengan nama Yos, sebagai lawan main Ani yang diperankan oleh Eka Nusa Pertiwi.

“Saya mencari pemain laki-laki yang jadwalnya bisa pas dengan saya dan Eka Nusa Pertiwi, tapi ngga nemu. Jadinya ya saya saja yang main,” ungkap Yusron dengan gaya bicara khas yang tidak jauh beda dengan di film.

Di beberapa menit awal, penonton disuguhkan oleh berbagai macam setting liputan mengenai penemuan fosil tengkorak sepanjang 1850 meter yang diperkirakan berumur 170.000 tahun di Pulau Jawa pasca gempa berkekuatan 5,7 SR. Penemuan di luar nalar manusia tersebut membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan tentang kemanuasiaan, yang sekaligus membuat heboh pimpinan negara, pemuka agama dan para ilmuan. “rethinking human, rediscovering humanity” begitulah poin utama yang ingin disampaikan pada awal film.

Dalam sesi Q & A dengan penonton di akhir pemutaran film, Yusron bercerita mengenai pemilihan judul ‘Tengkorak’ untuk filmnya kali ini. “saya lahir di era 80an, waktu itu terkenal film-film dengan judul yang sering memakai kata tengkorak, kayak pendekar dari bukit tengkorak, tengkorak hidup, macem-macem tengkorak pokoknya. Tapi, kata itu 10 tahun belakangan mulai jarang digunakan. Masa sih ada kata yang dibiarkan punah di khasanah perfilman kita? Padahal itu kata yang sangat keren, ini aset kita lho” papar pria yang juga menyutradarai film Pendekar Kesepian ini.

Selain Yusron Fuadi, beberapa dosen dan profesor UGM turut berperan menjadi tokoh penting dalam film ini, termasuk rektor UGM, Prof. Panut Mulyono. “film ini bener-bener modal nekat dan low budget. Mahasiswa, teman-teman pengajar dan masyarakat telah banyak membantu saya merealisasikan mimpi untuk membuat film fiksi ilmiah yang jadi obsesi saya,” tambah Yusron.

Bersama Tengkorak, kita akan diajak menyelami berbagai pergulatan kemanusiaan lewat dua tokoh utama, Yos –pria suruhan negara yang membunuh belasan orang tanpa merasa berdosa, dan Ani –gadis yang memutuskan bekerja di situs bukit tengkorak karena merasa disakiti oleh dua laki-laki.

Tengkorak juga akan membawa penonton pada alur cerita yang berisi penemuan teka-teki. Latar tempat Yogyakarta menjadi setting mayoritas pada film ini. Rencananya, Tengkorak akan hadir secara lebih luas pada tahun 2018 mendatang. (Linda Fitria)

 

BERITA REKOMENDASI