Curah Hujan Tinggi, Picu Runtuhnya Kubah Lava Gunung Semeru

Editor: Agus Sigit

YOGYA, KRjogja.com – Secara saintifik, curah hujan yang tinggi bisa menyebabkan ketidakstabilan pada endapan lava. Hal itu pula yang menjadi pemicu runtuhnya kubah lava Gunung Semeru, sehingga menyebabkan terjadinya luncuran awan panas yang jarak luncurnya mencapai 11 km (melebihi rekomendasi jarak aman). Demikian disampaikan Pakar Vulkanologi UGM Dr Wahyudi MS kepada wartawan saat jumpa pers di Auditorium Fakultas MIPA UGM, Senin (6/12).

Menurut Wahyudi, pada beberapa kasus, memang faktor eksternal, seperti curah hujan yang tinggi bisa menyebabkan thermal stress

dalam tubuh kubah lava dan memicu ketidakstabilan. Contohnya, pada erupsi Gunung Soufriere Hills Volcano Montserrat di tahun 1998, 2000, 2001, dan 2003, di mana hujan lebat dengan intensitas lebih dari 80 mm/jam dan durasi lebih dari 2 jam memicu runtuhnya kubah lava. Pada beberapa gunung api dengan lingkungan salju juga bisa menyebabkan melelehnya salju secara cepat serta menyebabkan kubah lava tidak stabil.

Menurut Wahyudi, dari data kegempaan, terlihat bahwa jumlah guguran meningkat dalam beberapa hari terakhir, sehingga dapat disimpulkan ketidakstabilan kubah lava Semeru meningkat ditambah faktor eksternal berupa curah hujan yang tinggi. Otoritas sempat mengeluarkan peringatan kepada masyarakat akan potensi jangkauan awan panas yang lebih panjang daripada 5 km. Namun sebelum semua masyarakat meninggalkan area bahaya, awan panas lebih dulu mencapai daerah tersebut.

“Hal ini mengindikasikan adanya precursor atau tanda-tanda erupsi yang cukup singkat antara waktu kejadian erupsi dengan proses evakuasi,” ujar Wahyudi.

BERITA REKOMENDASI