Dalang Membawa ‘Angsar’ Baik

Editor: Ivan Aditya

ADA kejadian unik. Tiga hari setelah menggelar pentas wayang kulit, masyarakat sebuah desa di Semarang, tiba-tiba mendapat tawaran dari Perhutani untuk memanfaatkan hutan. Boleh menanam di area tersebut, dan hasilnya menjadi hak si penanam (masyarakat).

Realitas tersebut mengagetkan, sekaligus menerbitkan kegembiraan luar biasa. Saking senang, sekaligus mengucap syukur kepada Tuhan, masyarakat tersebut menggelar kenduli. Bersyukur kepada Tuhan atas berkah yang tak disangka datangnya.

Mayoritas masyarakat tersebut percaya, berkah tersebut mengucur setelah mementaskan wayang kulit. “Mereka meyakini itu. Maka saat kenduri, saya diundangkan,” papar Ki Wisnu Gito Saputro, dalang wayang kulit di pentas mengusung lakon Babad Alas Mertani tersebut.

Pentas wayang kulit tidak sekadar hiburan. Lebih dalam, pentas tersebut juga doa yang digulirkan dalang. Beberapa amsal empirik yang tergulir, pengakuan terhadap kesakralan pentas wayang kulit. Masyarakat yang masih menggelar merti desa dengan mementaskan wayang kulit, bukti nyata kepercayaan tersebut.

Ki Wisnu mengakui hal tersebut. Masih ada yang meyakini dan berharap, dalang membawa angsar yang baik. Setelah wayangan, doanya, penyelenggara mendapat karunia. Hidup lancar, aman, sehat, sukses karier dan sejenisnya.

BERITA REKOMENDASI