Daun Kelor dan Pisang Jadi Cendol, Warga DIY Belajar Kembali ke Alam

Editor: Agus Sigit

“Adanya kondisi pandemi ini memang yang rugi tidak hanya UMKM, tapi kami juga rugi karena pajak tidak masuk. Semua tidak punya duit. Tapi itu bukan terus itu jadi hambatan kita tidak survive, tumbuh dan maju. Saya hanya keluarkan tanggap darurat tapi tak pernah bilang menutup usaha. Ibu jualan saja, di pasar atau di tempat lain silahkan jualan karena tak pernah ada kebijakan menutup. Kita adaptasi saja, tapi bukan berarti tidak boleh mencari sesuap nasi. Yang penting menjaga kesehatan, kita adaptasi karena tidak ada obatnya. Ibu tetap jualan monggo, keluar rumah monggo yang penting tambah beli vitamin B Complex vit zinc dan madu. Yang kena positif saya beri satu kantong untuk tambahan vitamin agar imunitas dan fisiknya sehat. Jadi kalau kena hanya ringan saja. Dianggap kaya DB saja kita adaptasi,” ungkap Sultan.

Sementara dalam dialog yang digelar di tempat yang sama, Dwi Larasatie Nur Fibri, ahli Pangan dan Gizi Fakultas Teknologi Pertanian UGM, menyampikan bahwa pangan lokal sangat penting untuk tetap melestarikan alam dan budaya. Masyarakat termasuk di DIY harus mulai kembali ke alam untuk memastikan keberlanjutan pangan.

“Pangan lokal kita kaya, tapi kita harus menyesuaikan musim juga. Ganti musim ya ganti makanan. Ini sudah jadi trend di luar negeri sekarang. Tapi kesadaran kita masih rendah karena adanya kebiasaan. Ini yang mulai harus kita bangun agar kita kuat hubungan dengan alam. Keanekaragaman sangat dibutuhkan tidak kemudian setahun makan jeruk saja, atau gori saja,” terang Dwi. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI