Daya Beli Petani di Pedesaan DIY Alami Tekanan Terbesar

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu indikator untuk melihat kemampuan daya beli petani di pedesaan DIY yang tengah mengalami tekanan sejak terjadi pandemi Covid-19. Daya beli petani di pedesaan DIY pada mencapai angka 100,33 pada September 2020 yang mengalami penurunan sebesar 0,67 persen dibanding indeks bulan sebelumnya yang tercatat 101,01.

“NTP Subsektor Tanaman Pangan tercatat sebesar 101,84, NTP Subsektor Hortikultura 106,25, NTP Subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat 112,45; NTP Subsektor Peternakan 91,28 dan NTP Subsektor Perikanan 97,62,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Heru Margono di Yogyakarta, Jumat (02/10/2020).

Heru mengatakan penurunan indeks NTP gabungan pada bulan ini disebabkan turunnya subsektor tanaman pangan sebesar 0,38 persen, subsektor hortikultura sebesar 0,57 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,82 persen, subsektor peternakan sebesar 1,65 persen. Sedangkan subsektor perikanan mengalami kenaikan sebesar 1,47 persen.

“Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) DIY yang mencerminkan kemampuan produksi petani pada September 2020 sebesar 99,32 atau turun sebesar 1 persen dibanding Agustus sebesar 100,32. Lima subsektor mengalami penurunan yaitu tanaman pangan sebesar 0,72 persen, hortikultura sebesar 1,04 persen, tanaman perkebunan rakyat sebesar 1,57 persen, peternakan sebesar 1,79 persen, sedangkan perikanan naik sebesar 1,36 persen,” terangnya.

Indeks Harga Konsumen (IHK) pedesaan di DIY pada September 2020, Heru menekankan secara umum mencapai 104,97 atau mengalami deflasi sebesar 0,32 persen dibanding IHK pada bulan sebelumnya yang tercatat 105,30. Dari 34 provinsi yang dihitung NTP-nya pada September 2020 terdapat 28 provinsi mengalami kenaikan, dan 6 provinsi lainnya mengalami penurunan.

“Kenaikan NTP terbesar terjadi di Riau sebesar 3,48 persen, sedangkan kenaikan NTP terkecil sebesar 0,04 persen terjadi di Maluku. DIY mengalami penurunan NTP terbesar yaitu 0,67 persen, sedangkan penurunan terkecil terjadi di NTT sebesar 0,09 persen,” pungkasnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI