Delapan Wilayah di Kulonprogo dan Gunungkidul Rawan Longsor

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Apel kesiapsiagaan tanggap bencana alam 2020 dilakukan TNI, Polri, pemerintah daerah dan potensi SAR di Mako Brimob Baciro, Selasa (07/01/2020). Selain mengecek kesiapsiagaan personel, apel untuk memastikan jika peralatan dan perlengkapan yang dimiliki masing-masing instansi maupun potensi SAR dalam rangka penanggulangan bencana, berfungsi dengan baik.

Waka Polda DIY Brigjen Pol Karyoto SIK mengatakan, apel juga sebagai ajang konsolidasi antara TNI, Polri, Pemda dan potensi SAR dalam rangka penanggulangan bencana. "Dengan konsolidasi, jika ada apa-apa kita telah siap," ungkap Karyoto usai memimpin apel kesiapsiagaan.

Baca juga :

Subsidi Besar, Layanan Trans Jogja Harus Baik
DIY Waspada Banjir Lahar Hujan Merapi

Dijelaskan, dalam penanganan bencana dibutuhkan informasi yang cepat agar petugas segera datang ke lokasi. Karena itu Polda DIY memaksimalkan peran Babinkamtibmas yang ada di tiap Desa untuk memantau perkembangan tiap desa binaannya masing-masing. "Kami punya Babhinkamtibmas yang cepat tahu jika ada apa-apa," tandasnya.

Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan sudah melakukan pemetaan daerah rawan longsor maupun banjir. Dari pemetaan ada delapan kawasan rawan dan konteks musim penghujan adalah kawasan rawan longsor dan banjir yakni di daerah Menoreh meliputi Kalibawang, Girimulyo, Samigaluh dan Kokap. Sedangkan Kabupaten Gunungkidul yaitu Gedangsari, Patuk, Senin dan Ngawen.

Di lokasi rawan itu, masyarakat jauh hari sudah diberikan edukasi untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi bencana. "Melalui berbagai forum, kami sudah mengedukasi masyarakat agar lebih peka terhadap gejala-gejala di lingkungan yang potensi terjadi longsor. Kalau banjir, ya kita tahu sungai-sungai mengarah ke selatan. Tahun lalu di Imogiri dan sekitarnya terjadi banir, sehingga perlu perhatian khusus," tandasnya. (Ayu)

BERITA REKOMENDASI