Den Baguse Ngarso Kurang Greget Tampil Tanpa Penoton

Editor: Ivan Aditya

KETIKA banyak pihak, termasuk produksi pementasan beralih ke dunia virtual di saat Pandemi, apakah pesan yang ingin disampaikan melalui konsep tersebut benar-benar sampai ke masyarakat? Pertanyaan itu yang terus bergaung menyikapi migrasi pertunjukan dari panggung konvensional ke wahana digital.

Dari yang sebelumnya ditonton langsung dan melibatkan banyak orang, saat ini harus melalui perantara teknologi informasi dengan sedikit keterlibatan kru. Tentu pergeseran ini memiliki imbas langsung ke penonton sebagai objek dari pertunjukan tersebut.

”Kalau ingin tahu apakah efektif atau tidak menyampaikan pesan, masyarakat yang bisa menjawab. Meski dalam produksi konten virtual ada pesan yang diselipkan,” jelas Susilo ‘Den Baguse Ngarso’ Nugroho yang belum lama ini terlibat dalam produksi pentas daring Dinas Kebudayaan DIY berjudul Monolog Pageblug kepada KRJOGJA.com, Kamis (16/07/2020).

Menurut Susilo, permasalahan yang utama dihadapi pelaku seni dan budaya sebenarnya saat ini tidak ada pentas. Soal pentas daring atau bukan, kebanyakan tidak mempermasalahkan karena banyak juga pelaku seni tradisi yang telah berpengalaman. Misalnya saja rekaman untuk televisi atau radio yang juga tidak lepas dari teknologi.

”Terlepas sudah berpengalaman atau belum, keduanya memiliki beban yang kurang lebih sama, yakni tidak ada penonton. Sebab penonton itu bagian tidak terpisahkan dari pertunjukan. Itu yang sering menyebabkan pemain merasa kurang greget,” kata Susilo.

Dirinya juga menyebut perihal kesiapan insan seni dengan alih teknologi. Jika hanya sebatas sebagai pemain, cenderung relatif siap dengan kekurangan sering tidak bisa membaca kemauan penonton. (Feb)

BERITA REKOMENDASI