Dendam Turun-temurun, Alumni Harus Bertanggungjawab

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Adanya permusuhan antar geng sekolah dinilai banyak pihak menjadi penyebab aksi kekerasan yang menimpa para pelajar di wilayah DIY. Sekolah merasa kewalahan membubarkan geng yang ternyata merupakan warisan turun temurun dari alumni, kakak kelas ke adik kelas.

Dekan Fakultas Hukum Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Rahmat Muhajir kepada wartawan Rabu (21/12/2016) mengatakan permasalahan geng sekolah merupakan masalah lama yang terjadi dari tahun ke tahun. Menurut dia, perlu peran alumni yang andil ikut dalam pembentukan geng untuk membubarkan agar tak lagi terjadi kekerasan menimpa pelajar di Yogyakarta.

"Geng dengan persaingan antar sekolah, tak luput dari masalah-masalah bawaan kakak kelas yang sudah menjadi alumni, dan saat ini kembali terjadi hingga menelan korban. Alumni harus bertanggungjawab karena ikut mewariskan masalah antar sekolah pada adik-adik angkatannya," ungkapnya.

Disebutkan Muhajir, banyak alumni yang kini sudah ada dalam kondisi pemikiran lebih matang dirasa bisa mengubah kegiatan negatif menjadi positif dan bisa ditularkan pada pelajar. "Mungkin dulu nakal, ikut geng tapi sekarang sudah berbeda dan harus ikut andil mengubah potensi adik-adik angkatannya agar punya kegiatan positif, tidak lakukan tindakan kekerasan," lanjutnya.

Muhajir menilai, hampir semua sekolah DIY memiliki geng yang rata-rata sudah eksis sejak puluhan tahun lalu. "Sudah tidak bisa kalau hanya sekolah saja yang menindak, harus peran semua pihak termasuk alumni yang saat ini sudah lebih ikut melebur bersama masyarakat," imbuhnya.

Hadi Suyono Direktur Clinic for Community Empowerement Fakultas Psikologi UAD menambahkan usia remaja merupakan masa di mana anak-anak masih belum stabil secara emosional. Hal inilah yang membuat mereka mudah terprovokasi dan dimobilisasi ketika terjadi permasalahan.

"Kami menilai peran orang tua, keluarga, lingkungan, masyarakat dan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk mengurai permasalahan yang ternyata sudah terjadi sejak lama. Dari sisi psikologis, remaja masih sangat membutuhkan perhatian dan pendampingan dari berbagai pihak termasuk orangtua," ungkapnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI