Dewan Menolak Area Parkir Bus di Timur Amongraga

YOGYA, KRJOGJA.com – Pimpinan Komisi C DPRD Kota Yogya menolak kebijakan pemanfaatan parkir bus pariwisata di timur GOR
Amongraga. Kebijakan tersebut dinilai justru menambah beban lalu lintas di perkotaan.

Sekretaris Komisi C DPRD Kota Yogya Sigit Wicaksono mengaku, pihaknya sudah meninjau uji coba parkir bus pariwisata alternatif di timur GOR Amongraga. "Kami di pimpinan komisi sepakat menolak kebijakan parkir alternatif bagi bus pariwisata tersebut. Bukan mencari kesalahan, tapi lebih pada pemilihan lokasi yang tidak tepat," tandasnya, Senin (16/12).

Uji coba parkir alternatif tersebut diberlakukan pada Sabtu (14/12) dan Minggu (15/12). Bus pariwisata yang menuju Kota Yogya dari arah timur atau Jalan Kusumanegara, diarahkan oleh petugas untuk menuju lokasi parkir di timur GOR Amongraga. Terutama ketika lokasi parkir bus pariwisata di kawasan Malioboro sudah penuh.

Sigit menilai, parkir alternatif di timur GOR Amongraga tersebut bersebelahan dengan Kantor BPBD DIY sekaligus posko penanggulangan bencana. "Posko itu kan tempat vital. Ketika di sana macet karena banyak bus pariwisata dan ada kejadian bencana, bagaimana solusinya. Masyarakat kan yang akhirnya dirugikan," imbuhnya.

Selain itu, ada potensi masalah sosial yang turut mengancam, yakni munculnya PKL musiman yang bisa menambah beban jalan di sekitarnya. Pasalnya, hampir setiap lokasi yang menjadi tempat pemberhentian bus pariwisata, selalu diserbu oleh PKL.
Apalagi lebar jalan di kawasan GOR Amongraga cukup terbatas dan menjadi jalur strategis untuk perkantoran dan pendidikan.

Oleh karena itu, pihaknya merekomendasikan agar ada kajian ulang untuk menjadikan timur GOR Amongraga sebagai lokasi parkir alternatif untuk bus pariwisata. Parkir alternatif justru diusulkan berada di pinggiran kota, bukan pusat kota. "Untuk
sementara bisa memanfaatkan Terminal Giwangan, kemudian disiapkan shutle untuk menuju destinasi di pusat kota. Kalau parkir bus pariwisata yang permanen, bisa dikoordinasikan dengan DIY maupun kabupaten lain. Ini demi kepentingan yang
lebih luas," urainya.

Diakuinya, kemacetan di pusat kota menjadi persoalan klasik dan selalu berulang setiap libur panjang. Akan tetapi, antisipasinya terkesan hanya untuk 'menambal luka', dan bukan mengobati penyakit. Sehingga kerap dilakukan uji coba dengan model yang berbeda-beda. Tidak jarang, imbuh Sigit, uji coba tersebut memberikan dampak bagi masyarakat.

Sigit berharap, mengurai kemacetan tidak semata mendasarkan kondisi jalan yang terbatas. Pemkot bisa membangun komunikasi dengan daerah lain untuk membuat jadwal kunjungan. "Kita tidak memaksa wisatawan untuk membatasi kunjungan, tapi meratakan waktu kunjungnya di Kota Yogya. Jadi tidak menumpuk pada
satu waktu karena kapasitas jalan di Yogya
sangat terbatas," katanya.

Atas berbagai persoalan yang dipetakannya, Sigit mengaku akan mengagendakan rapat lintas komisi. Berbagai pihak di lingkungan eksekutif juga akan turut dilibatkan seperti Dinas Pariwisata serta Dinas Perhubungan. Hal ini untuk mencari jalan terbaik agar wisatawan tetap nyaman dan warga Kota Yogya juga tidak terganggu kepentingannya.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Yogya Windarto, sebelumnya mengatakan, penerapan timur GOR Amongraga sebagai tempat parkir alternatif masih sebatas uji coba. Pihaknya mengakui masih ada beberapa kelemahan yang perlu dibenahi. Berbagai masukan dari elemen masyarakat juga tetap dipertimbangkan. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI