Di Yogya, Raisa Menunggu Kaki Baru

HATI Wahyu Pristiawan Buntoro tersentuh. Betapa pun letih melakukan evakuasi di Hotel Roaroa, namun naluri sebagai relawan tidak berhenti. Telpon dari Bantul yang meminta dicarikan kakak sahabatnya yang sudah putus kontak pascabencana Palu, membuatnya tidak mengenal istirahat. Anggota Divisi Tanggap Darurat, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi (TDRR) MDMC PP Muhammadiyah itu pun menelusuri beberapa rumah sakit sampai akhirnya menemukan Raisa di RS SIS Al Jufri Palu. Hatinya kian tersentuh. 

"Kondisi bocah berusia sekitar 2 tahun itu memrihatinkan," paparnya kepada KR, Minggu (14/10/2018) sore. Salah satu kakinya membusuk akibat tertimpa robohan bangunan rumahnya yang tidak langsung mendapat penanganan. Sementara ibunda Raisa, Wahida masih gundah. Tidak adakah alternatif atau solusi lain selain amputasi untuk bayinya? Pertanyaan yang hanya digumamkan lirih. 

Bersama teman yang kebetulan dari tim medis, mereka mencoba menguatkan hati Wahida. "Memang, mestinya Jumat (5/10/2018) itu Raisa harus dioperasi. Tapi menunggu genzet dan obat yang diperlukan, membuat tindakan ditunda," kenangnya. 

Terus terang, ujarnya, kami semua memahami kegundahan Ibu Wahida. Apalagi sampai sekarang Suryanto sang suami yang asli Paliyan  Gunungkidul juga belum diketemukan dari reruntuhan rumah tinggalnya. Saya, ungkap Pris, bersyukur sekali, bisa menyambungkan kembali kontak Ibu Wahida dengan keluarga suami yang ada di Gunungkidul.  

Tetapi Allah adalah Maha Menolong yang Sempurna. Irfan Yusuf, Anggota SAR MDMC yang juga alumnus SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta, menghubungi teman-temannya. Meski tidak merasa memiliki hubungan dengan Raisa, namun mereka bergerak cepat. Tidak hanya ungkapan keprihatinan dan doa, namun menurut Irfan, mereka menggalang dana untuk kaki baru Raisa. Irfan menuturkan, alumni Muhi 98 ini menggalang dana dan bersepakat mengurus Raisa pascaoperasi.  

"Termasuk membawa Raisa dan ibunya pada keluarga di Paliyan hingga nanti mengusahakan kaki baru buat Raisa yang pasti sudah menunggu di Yogya. Nanti akan disalurkan lewat MDMC," ujar Irfan Yusuf.

Semua ini menguatkan hati Wahida akan masa depan buah hati semata wayangnya. Kekuatannya kembali muncul. Keinginan untuk ke Yogya dan berada di tengah keluarga suami pun menguat, meski kembali tanpa suami. Apalagi semua yang di Palu bisa dikatakan sudah hilang. Sabtu (13/10/2018) lalu, Raisa dan Wahida telah sampai di Yogya dijemput Irfan dan relawan Muhammadiyah di Bandara Adisutjipto. Dan mereka langsung diantar ke rumah keluarga suami di Paliyan. 

"Kebetulan, ayah Raisa juga sudah membangun rumah di Paliyan," jelas Irfan.(Fsy)

BERITA REKOMENDASI