Dialog Budaya Yogyakarta Semesta, Curhat untuk Masa Depan Malioboro

YOGYA, KRJOGJA.com – Dialog Budaya dan Gelar Seni 'Yogyakarta Semesta' Seri-119 diadakan spesial untuk memperingati ‘Selasa Wage’ di Gerbang Kepatihan pukul 19.30-22.00. Acara ini di hadiri oleh Drs Heroe Poerwandi, MA (Wakil Walikota DIY), dan beberapa narasumber yakni Indra Trenggono (Sastrawan dan Pemerhati Budaya), Ari Wulu (Tokoh Kreatif), Ahmad Syaifuddin Mutaqi (Ketua Ikatan Arsitek DIY), Romo Heri Dendi (Pengasuh Komunitas Budaya Yogya Semesta). 

Sebelum dilangsungkan diskusi, acara ini menyuguhkan pertunjukan gelar seni dari gamelan Mben Surup Komunitas Gayam 16 ladrang wilujeng dan Langen Mandra Wanara. Langen Mandra Wanara sengaja ditampilkan  untuk memperkenalkan kepada generasi muda bahwa Yogyakarta memiliki Opera Jawa gabungan menyanyi dan tari (menari dengan jengkeng) untuk menghormati tamu-tamu yang duduk. 

Diskusi dengan tema 'Malioboro, Ruang Kreativitas Publik' ini membahas masalah ruang publik Malioboro jauh dari optimal yang belum memenuhi kriteria fungsional, aksesial, aman, nyaman dan efektif. Menurut Indra Trenggono terdapat tiga perspektif, Pertama malioboro dan romantisme, malioboro menjadi semacam poin, sebagai denyut kebudayaan, dan sebagai ruang interaksi dari para pelaku budaya, para pencipta seni, para mahasiswa, dan lain sebagainya. Kedua malioboro dan ekonomi wisata, 1980-sekarang malioboro lepas dari para pelaku budaya, seniman, dan seterusnya, sehingga kekuatan ekonomi jauh lebih dominan, seniman mulai terpinggirkan. Ketiga malioboro dan kebudayaan, malioboro dibangun dengan kesadaran kebudayaan, artinya harus ada kebudayaan pemerintah untuk merealisasikan gagasan. 

"Untuk kedepannya malioboro kita arahkan pedestrian yang memerlukan proses, salah satunya membiasakan terlebih dahulu, dan terdapat tempat tertentu untuk aspirasi seni budaya, dari seni tradisional hingga modern. Pemerintah juga masih menampung aspirasi dan masukan dari masyarakat," ujar Wakil Walikota Yogya.

Adanya Malioboro sebagai Ruang Kreatif Publik diharapkan dapat berperan sebagai inspirator lingkungan beriklim inovatif yang dapat diakses secara bebas oleh masyarakat, baik profesional, amatir, maupun awam, sebagai pembentuk minset dan moodset kreatif yang merupakan modal pengembangan ekonomi kreatif, tidak hanya terbatas di Malioboro, tetapi diharapkan dampaknya semakin luas, baik dalam strata publik, maupun sektor dan skala ekonomi kota dan DIY. (Firma Firduasi – Mahasiswa Magang Universitas Negeri Malang)

BERITA REKOMENDASI