Dibalas dengan Pengorbanan, Ini Makna SU 1 Maret 1949 bagi Kelangsungan NKRI

SUASANA di pagi hari pada 1 Maret 1949 di Yogyakarta cukup cerah. Tepat pukul 06.00 WIB, sirine tanda berakhirnya jam malam yang diberlakukan kolonial Belanda meraung. Biasanya, tanda itu menyertai aktivitas masyarakat Yogyakarta saat itu.

Namun tidak di pagi tersebut. Raungan sirine menjadi pertanda buruk bagi Pasukan Belanda yang coba menguasai kembali Indonesia pasca proklamasi dengan menduduki Yogyakarta, ibukota NKRI ketika itu. Berbarengan dengan bunyi sirine, dentuman meriam dan rentetan senjata beruntutan membuat pasukan Belanda panik. Tanpa diduga, pasukan TNI dibantu rakyat secara terorganisir rapi menyerang pusat Kota Yogyakarta dari berbagai penjuru dan beberapa tempat strategis lain yang diduduki Belanda.

Serangan mengejutkan tersebut membuat posisi Belanda terdesak dan berhasil dipukul mundur. Dalam waktu cukup singkat, pasukan TNI dipimpin Letkol Suharto yang sebelumnya mendapat titah dan restu Sri Sultan HB IX dapat menguasai Yogyakarta.

Heroisme peristiwa bersejarah itu diperagakan apik Komunitas Djokjakarta 1945 didukung sejumlah komunitas lainnya dengan wujud fragmen teatrikal dalam Peringatan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Halaman Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Minggu (4/3/2018).

"Kami coba visualisasikan peristiwa monumental dan sarat nilai sejarah tersebut dalam bentuk teatrikal. Turut hadir pecinta sejarah dari berbagai daerah termasuk kami libatkan sejumlah mahasiswa asing yang sedang belajar di Yogyakarta untuk menguatkan karakter," tutur koordinator acara teatrikal Chandra Gusta dijumpai sela acara.

Rangkaian peristiwa sejak pendudukan kembali Belanda, pertemuan Sultan HB IX dengan Letkol Suharto di Keben Kraton pada 13 Februari 1949 hingga serbuan mendadak tersebut coba digambarkan dengan visualisasi fragmen dan ilustrasi suara. Meski hanya menduduki Yogyakarta selama enam jam karena sesuai kesepakatan, pasukan TNI ditarik keluar dari Kota Yogyakarta kembali ke kantong gerilya, tapi sangat memberikan arti luar biasa.

"Bisa jadi kalau tidak ada peristiwa tersebut atau TNI kalah saat menyerang, Indonesia sudah tidak ada. Sebab propaganda Belanda di dunia internasional, Indonesia dan TNI sudah habis tanpa kekuatan. Setelah serangan itulah, perjuangan diplomasi Indonesia di bawah PBB makin kuat hingga akhirnya kembali memperoleh kedaulatannya. Sebab itulah melalui kegiatan ini pula kami ingin menyuarakan pada pemerintah momentum Serangan Umum 1 Maret 1949 agar dapat ditetapkan sebagai hari besar nasional," tegas Chandra.

Terpisah Kepala Dinas Kebudayaan DIY Umar Priyono MPd berharap semangat SU 1 Maret menjadi memori kolektif masyarakat Yogyakarta dan Indonesia. Makin menggelorakan semangat greget, sawiji, sengguh ora mingkuh demi menegakkan kembali persatuan Indonesia.

Sementara Ketua Ikatan Keluarga Alumni Lemhanas (IKAL) Komisariat DIY Sugiyanto Semangun menegaskan sudah sepantasnya generasi saat ini mengenang semangat dan jiwa patriotisme pejuang pendahulu. Hal tersebut juga menjadi kajian di Lemhanas bahwa indikator negara besar tercermin dalam tiga hal, nasionalisme, SDM yang berdaya saing dan disiplin.

"Apalagi Yogyakarta ini lebih dari sekedar istimewa. Tapi sangat bersejarah dan menjadi center of gravity Indonesia. Bahkan Yogyakarta ini menjadi nenek moyang NKRI," jelasnya.

Tidak hanya teatrikal SU 1 Maret 1949 yang mendapat perhatian antusias masyarakat Yogyakarta. Karnaval budaya yang mengiringi teatrikal tersebut juga mendapat sambutan hangat. Diawali dengan drumband Akademi Militer (Akmil) Magelang di posisi terdepan Dilanjutkan dengan devile pasukan TNI dari tiga matra, darat, laut dan udara serta kepolisian RI. Selain itu juga ditampilkan parade kendaraan tempur yang dimiliki Indonesia serta dipungkasi penampilan sejumlah kelompok seni budaya di Yogyakarta. (Feb)

 

BERITA REKOMENDASI