Dicari, Sosok Capres Pro Petani dan Kedaulatan Pangan

KRJOGJA.com – Kondisi pertanian dan petani di Indonesia saat ini masih dalam keadaan yang sangat mempihatinkan. Meski dikatakan mampu memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi perekonomian nasional, nyatanya, pertanian tetap merupakan sektor pinggiran yang kurang mendapatkan perhatian serius pemerintah.

"Petani mendorong agar ke depan muncul pemimpin nasional yang benar-benar peduli dan berpihak kepada petani. Dicari sosok pro petani dan pro kedaulatan pangan. Salah satu tokoh yang saat ini muncul ke permukaan dengan kebijakan-kebijakan dan sikap yang menurut kami cukup berpihak kepada petani adalah Tuan Guru Bajang Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA," ungkap Koordinator Paguyuban Petani dan Mahasiswa Yogyakarta Eko Winarno, Kamis (15/02/2018).

Menurut Eko kemunculan tokoh-tokoh muda potensial seperti Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi ini perlu terus didorong dan dikawal. Karena itu Paguyuban Petani dan Mahasiswa Yogyakarta, sendiri mendorong tokoh-tokoh seperti TGB untuk maju ke level nasional. Bahkan, dan siap mengawal agar kebijakan pro petani dan pro kedaulatan pangan ini bisa diwujudkan pada level nasional.

"Dengan memunculkan tokoh-tokoh pemimpin pro petani dan pro kedaulatan pangan sejati yang bukan sekadar fokus pada produksi namun memiskinkan petani, tetapi benar-benar membangun petani menjadi berdaya dan mandiri. Keberlangsungan kehidupan pertanian di Indonesia akan terus terjaga dan terpelihara," tandasnya.

Eko mengutip catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan II 2017, sektor pertanian terus memberi kontribusi positif untuk perekonomian Indonesia. Menurut BPS, terlihat bahwa besaran produk domestik bruto (PDB) Indonesia mencapai Rp3.366,8 triliun. Dari sisi produksi, pertanian merupakan sektor kedua paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, setelah industri pengolahan. 

Posisi sektor pertanian masih di atas sektor lainnya, seperti perdagangan maupun konstruksi. Untuk triwulan II-2017 ini, sektor pertanian dalam arti luas menyumbang sebanyak 13,92%, sementara pada triwulan-I 2017 kontribusinya 13,59%. Namun pencapaian dari sisi produksi ini ternyata tidak tercermin nyata terhadap kondisi petani dan pertanian itu sendiri. 

"Dari sisi kesejahteraan petani, saat ini petani di Indonesia umumnya masuk dalam kategori miskin. Badan Pusat Statistik mencatat selama Juli 2017, Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 100,65 atau naik 0,38 persen dibandingkan NTP Juni yang sebesar 100,53. Kenaikan NTP dikarenakan indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,26 persen lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,14 persen," paparnya. (*)

BERITA REKOMENDASI