Didi Kempot, Artis Besar yang Tidak Pernah ‘Ngartis’

Editor: KRjogja/Gus

Butet menyebutkan, jarang seniman dua kali berada di titik kulminasi. Pertama, tahun 90-an saat melejitnya lagu ‘Stasiun Balapan’ dan hampir 30 tahun kemudian mencapai titik kulminasi kedua. Bergaul dekat sejak 90-an, Butet tak melihat ada sindrom primadona atau sindrom bintang pada diri Didi Kempot. Itu bisa terjadi karena Didi punya akar kuat.

Butet melihat fakta, karya Didi Kempot menembus lapis-lapis sosial, dari anak hingga orang tua, kaya maupun miskin, bisa menyukai lagu-lagunya. Tak pernah ada upaya mengubah teks ke dalam bahasa Indonesia. Kelokalan sudah dibuktikan Didi Kempot menjadi kekayaan. Dengan persoalan yang dianggap remeh, tentang rindu, patah hati, percintaan, tidak dibahasakan dengan ‘njlimet’.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melalui twitter @aniesbaswedan juga ikut mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Didi Kempot. Anies ikut mendoakan agar almarhum diterima di sisi Allah SWT.

Penyanyi Yogya Dhimas Tedjo, terkejut mendengar kabar meninggalnya sang idola, ‘The God Father of Broken Heart’ Didi Kempot, kemarin pagi. Ia menilai, Didi Kempot dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah.

“Orangnya baik, ‘humble’. Selalu ‘ngayomi, momong’. Beliau selalu mengarahkan juniornya kalau ketemu di panggung,” ucapnya.

BERITA REKOMENDASI