Didik Nini Thowok, Jangan Jadi Seniman Instan

Editor: Ivan Aditya

LAMA tidak jumpa, tiba-tiba Didik Nini Thowok meminta saya mengunjungi sanggarnya. Ternyata Sanggar Tari Natya Lakshita milik Didik Nini Thowok mengalami perubahan dahsyat. Lebih luas, berlantai tiga. Koleksi milik maestro tari bernama asli Didik Hadiprayitno itu sangat banyak. Dari piagam penghargaan, foto, kliping berita koran, topeng, kostum tari, suvenir, dan lainnya.

Setelah direhab dan ditata, sanggar milik Didik akan dibuka untuk umum. Selama ini sudah banyak pelajar dan berbagai kalangan yang datang ke sanggar seniman kelahiran 13 November 1954 itu. Direncanakan setelah penataan, akan makin banyak pengunjung yang datang ke museum Didik.

Beberapa waktu lalu, warga Jatimulyo Yogyakarta itu terlibat di singel Asa untuk Indonesia yang diproduseri Icun Lin, penyanyi lagu Mandarin yang pernah tinggal di Yogya.

Kenapa Didik yang bukan penyanyi digamit di proyek sosial itu? Apa pula program Didik dan sanggarnya ke depan?

Berikut obrolan KRJOGJA.com dengan sarjana ASTI Yogyakarta itu.

Gimana ceritanya bisa terlibat di singel ‘Asa untuk Indonesia’?

Tiba-tia dihubungi Icun Lin. Mau nggak nyanyi? Pales nggak apa-apa, nanti diolah, katanya. Setelah saya mengiyakan, dikirimi lirik, trus nyanyi di rumah. Yang nyuting Adit, anak saya. Trus dikirim ke sana. Icun bilang, kok bagus suaranya. Padahal pas-pasan. Dulu saya penyanyi gereja. Hehehe…. Saya kan senang nampilkan etnik, pakai topi daerah. Saya pamerkan. Makanya saya pakai topi Dayak. Tujuan saya, edukasi untuk anak milenial, generasi muda, bahwa budaya kita banyak. Indonesia itu beragam. Bukan hanya daerahnya sendiri. Itu sebuah seni yang tak bisa dihargai dengan uang.

Artinya, penampilan saat bernyanyi di singel itu juga punya misi ya?

Betul. Bahwa ini keberagaman Indonesia. Kalau kemarin digarap lagi, tiap penyanyi pakai khas etnik tertentu, kan menarik. Kita berapa provinsi. Kita bicara Jawa Tengah saja, iket blangkon Yogya Solo sudah beda. Di ruang koleksi, saya akan memamerkan keberagaman itu. Saya akan kirim surat kepada kepala-kepala daerah, minta sumbangan kostum daerahnya. Untuk edukasi. Generasi muda bisa melihat. Saya itu orangnya perfeksionis. Tidak mau ecek-ecek. Selalu menampilkan kualitas. Saya punya pengalaman di salah satu kedutaan di luar negeri, koleksi baju tari, aduh tidak berkualitas blas. Yang berkualitas itu ada. Itu tukon pasar. Saya ingin menampilkan bahwa seni budaya kita punya kualitas. Baju yang tadi kita lihat, khas Malang itu, harganya Rp 15 juta, tahun 2001. Dibikin selama tiga bulan. Dan saya tidak menawar harganya. Karena saya ingin menghargai pembikinan itu. Saya bisa bikin kostum, bisa jahit. Jadi tahu kerumitannya.

Semata menegaskan, karya anak bangsa banyak yang bagus, dan perlu diapresiasi?

Iya. Betul. Tahu nggak, kostum asli Cina dengan buatan Sumatra teknik buatnya sama lho. Tradisi Cina sudah berakulturasi di masyarakat kita sejak dulu. Artinya, kita harus belajar sejarah. Jangan jadi terlalu nero, sempit pandangannya. Terima saja. Tak perlu dirunut dari mana. Kita wise saja. Berjiwa besar saja. Nenek moyang kita ternyata sangat welcome. Bisa menerima budaya manapun. Dan terjadi akulturasi. Dan harus seperti itu. Makanya lewat seni budaya, percampuran itu indah. Tidak lewat perang. Tak pakai permainan politik.

Tentang kostum etnik yang dikenakan di video singel itu, ada respons?

Ada. Lewat Instagram. Banyak. Ada rasa penasaran. Dari Dayak senang, karena mewakili daerah itu. Sepele, ternyata dampaknya luar biasa. Yang tidak tahu jadi penasaran. Nah itu kesempatan saya menjelaskan.

Ikut terdampak Covid-19 kan?

Sangat. Semua job ditunda. Yang nanti, masih yes or no. Sampai kapan belum tahu. Saya penghasilan dari pentas. Sementara karyawan sembilan. Beruntung ada paket dari Kementerian Kebudayaan. Pentas live untuk YouTube. Program itu bisa sedikit membantu. Kami dikasih enam paket. Yang mendaftar, seniman kena dampak katanya 40 ribu. Itu kan wujud kemudahan pemerintah yang perlu diapresiasi.

Sanggar mengalami renovasi habis-habisan….

Kami dapat bantuan dari Bekraf. Revitalisasi, renovasi sarana dan prasanan, serta TIK. Kami mengajukan proposal. Ada teman ngoyak-oyak agar mengajukan. Katanya saya layak mendapat. Akhirnya kami buat proposal dengan proses cukup lama. Dibantu ya syukur, tidak ya sudah usaha. Lalu dari Jakarta meninjau. Akhirnya dibantu. Dan jadi seperti ini.

Dibuka untuk umum nantinya?

Iya. Badan Ekonomi Kreatif kan ada unsur perputaran ekonomi. Kami kerjasama dengan RT RW. Ada kegiatan yang melibatkan banyak pihak. Kebetulan juga banyak teman yang pecinta museum, melihat koleksi saya, ingin bantu.

Koleksi sangat lengkap. Dari foto, kliping berita, pakaian pentas, hingga barang-barang yang pernah digunakan. Sejak awal memang sudah menyadari untuk mengumpulkan semua itu?

Awal tidak kepikiran itu penting. Saya ingat pesan nenek saya, jangan lupakan orang yang pernah berjasa. Saya punya koper. Itu koper rusak, mau saya buang kok eman-eman. Kan pernah berjasa. Disimpan. Dikoleksi. Akhirnya dipajang. Barang-barang yang dibeli dengan susah payah waktu itu, saya simpan. Dan sekarang jadi koleksi.

Seberapa penting dokumentasi itu bagi seorang Didik Nini Thowok?

Bisa lihat perkembangan dari dokumentasi itu. Dari foto-foto dulu, atau kliping berita di koran-koran. Jadi tahu kalau rupaku elik. Dulu bodoh. Hehehe. Kita harus tahu dokumen. Itu perjalanan sejarah. Memorinya itu kembali. Itu sesuatu. Dulu, saya sering lihat teman bisa masuk koran. Saya bayangkan, duh gimana rasanya bisa masuk koran. Proses perjalanan, akhirnya bisa. Duh senengnya. Malah sering. Dulu, kalau tidak sanggar saya yang ditulis teman wartawan, ya sanggarnya Pak Bagong Kussudiarjo. Kami yang mendominasi waktu itu. Seniman itu penting berteman dengan wartawan. Kalau tidak dipublikasikan, maka tidak akan dikenal (masyarakat).

Sudah berlevel internasional, apakah masih mengajari tari murid yang kursus di sanggar?

Saya ada asisten. Kecuali kalau orang dari luar negeri, ingin kursus khusus dengan saya, saya yang mengajari.

Yang mahal ya…

Hahaha…. Tapi saya tetap memantau dan menengok murid-murid yang belajar di sanggar kok.

Katanya mau pindah ke Jawa Tengah, ke kampung halaman?

Bukan pindah. Karena saya asal Temanggung, ingin berbuat untuk kampung saya. Rencana akan membangun rumah koleksi dan sanggar. Besok kalau saya meninggal kan dimakamkan di sana. Maka saya ingin, orang kalau mencari Didik Nini Thowok ya di Temanggung. Tapi lokal di sana kelihatannya tidak welcome. Tidak ada respons. Pokoknya banyak masalah. Yo wes. Umur udah 66 tahun ngapain buang-buang waktu. Tinggal di Yogya tidak apa-apa. Saya sampai malu dengan Pak Ganjar (Gubernur Jateng). Karena sudah telanjur janji dengan Pak Ganjar akan membuat sesuatu di Temanggung.

Sebagai senior, pun maestro, ada pesan untuk seniman agar mendunia?

Jangan jadi seniman instan. Proses itu butuh waktu. Seniman harus berwawasan luas. Membuka diri. Bergaul dengan siapa saja. Jangan hanya dengan seniman. Kalau belajar tari, jangan hanya Jawa saja. Semua tari dipelajari. (Latief Noor Rochmans)

BERITA REKOMENDASI