Difabel Yogya Bisa Berkarya Jadi Tukang Kayu Kelas Industri

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Asosiasi Pengusaha Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) melalui program Diklat 3 in 1 untuk Operator Finishing Perkayuan membuka akses terhadap para difabel. Bekerjasama dengan Kementerian Perindustria RI, melalui Balai Diklat Industri Yogyakarta, program Diklat 3 in 1 membantu 35 difabel yang ada di wilayah DIY untuk bisa menjadi tukang kayu berskala industri.

Anggoro Radmadiputra, Ketua DPP ASMINDO, mengatakan sekitar 15 dari 100 orang di dunia menyandang disabilitas, di mana dari data Kementrian Sosial jumlah penyandang disabilitas sebanyak 205.360 orang. Artinya menurut Anggoro, hampir 10 persen jumlah penduduk Indonesia adalah disabilitas.

“Untuk itu akses kepada industri perlu dibantu untuk dibukakan apalagi ada Undang-Undnag no 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan bahwa tidak ada diskriminasi dalam pekerjaan.

Untuk itu ASMINDO tahun 2021 ini menyelengarakan diklat-diklat perkayuan yang melibatkan para penyandang disabilitas. Bulan Maret ini bekerjasama dengan perusahaan Disabilitas bernama Difanesia.Id menyelenggarakan Diklat operator Finishing yang diikuti oleh 15 Peserta Tuna Rungu dan Tuli, 10 Tuna Daksa dan 10 tuna grahita ringan dan sedang,” ungkapnya pada wartawan, Kamis (25/03/2021).

KH Imam Aziz, pendiri Difanesia.id yang juga selaku Staf Khusus Wakil Presiden RI bidang Penggulangan Kemiskinan menambahkan, para peserta diklat perkayuan kali ini menjalani pelatihan selama periode 24-31 Maret 2021. Para difabel menurut Imam memiliki keinginan untuk berkarya di bidang perkayuan dan mau berusaha maksimal untuk bergerak maju.

“Kami menilai bahwa kegiatan seperti ini harus dicontoh oleh industri-industri lainnya, sehingga akses difabel ke dunia industri bisa sama dengan lainnya, karena hakikatnya kemiskinan itu adalah ketiadaan akses ekonomi, politik dan pengetahuan. Selama ini dalam pembangunan ekonomi kita hanya berorientasi pada kesempatan dan peluang, itu bagus dalammkerangka ekonomi makro, tapi jangan sampai juga meninggalkan masalah baru dimana, masyarakat rentan termasuk difabel tidak diikutsertakan dalam perencanaan maupun pelaksanaannya,” tandas Imam.

Sesuai target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Visi Indonesia 2045 yaitu menjaga peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat secara berkesinambungan, menjaga keberlanjutan kehidupan sosial masyarakat serta menjaga kualitas lingkungan hidup dan pembangunan yang inklusif menjadi hal yang penting dilakukan. Hal tersebut demi terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sementara para peserta pelatihan mendapatkan keterampilan finishing kayu yang didapat dari para pelatih mumpuni dari industri finishing kayu dan industri perkayuan. Instruktur dari para difabel ini juga adalah seorang difabel tuna daksa, bernama Sukamto, yang juga Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Cabang Sleman.

“Selain mendapatkan pelatihan dari para ahlinya, mereka juga akan diuji kompetensi setelah mendapatkan pelatihan itu. Sertifikasi dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi Mebel Kriya Indonesia yang sudah berlisensi dari Badan Nasional Standarisasi Profesi (BNSP),” pungkas Anggoro. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI