Digelar Festival Tembakau di Taru Martani, Potensial Jadi Destiwanasi Wisata

YOGYA, KRJOGJA.Com – Festival Tembakau Indonesia di Yogyakarta merupakan hal yang baru. Namun demikian, jika melihat potensi wisata dan keberadaan pabrik pengolahan tembakau yang legendaris di Yogyakarta menjadi petunjuk adanya potensi yang kuat sebagai salah satu destinasi wisata di Yogyakarta.
Demikian disampaikan Kepala Seksi Promosi Dinas Pariwisata DIY, LS Don Charles usai Pembukaan Festival Tembakau yang digelar di halaman PT Taru Martani, Selasa (22/2/2022). Don Charles hadir mewakili Kepala Dinas Pariwisata DIY, Singgih Raharjo. Hadir pula dalam kegiatan tersebut, Direktur PT Taru Martani, Nur Achmad Affandi dan Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Bantul, Bambang Guritno.
Festival digelar selama 3 hari tersebut, selain menyajikan berbagai produk tembakau dari berbagai produsen, juga menggelar kegiatan unik, seperti lomba melinting tembakau oleh ibu-ibu hingga sarasehan terkait pertembakauan. Festival juga menjadi pertemuan para petani tembakau dengan produsen rokok, sehingga memiliki gambaran terkait pasar tembakau.
Menurut Don Charles, penguatan sebagai daya tarik wisata bisa diangkat melalui experience saat mengunjungi festival tembakau atau saat mengunjungi pabrik rokok yang legendaris, seperti pabrik cerutu PT Taru Martani. Wisatawan akan merasakan pengalaman dengan pelibatan dalam produksi, seperti melinting rokok, atau membuat cerutu. Sehingga wisatawan terkesan untuk kemudian membawa produk tersebut sebagai souvernir ke negara asal wisatawan.
Menanggapi hal tersebut, Nur Achmad Affandi mengakui adanya potensi tersebut, seperti disampaikan Don Charles. Saat ini, Taru Martani menjadi perusahaan tertua di Indonesia yang masih berproduksi, terlebih sebagian produknya di ekspor ke sejumlah negara.
Dengan lahan yang begitu luas, dapat ditata untuk kemudian menjadi bagian destinasi wisata Yogyakarta. “Kami sendiri sudah beberapa kali menerima tamu dari mancanegara. Baik terkait kunjungan ke pabrik maupun juga wisata,” ujarnya.
Dari pantaunnya, baik terhadap wisatawan asing dan dalam negeri, mereka awalnya tidak mengetahui mengenai sejarah dari perusahaan milik Pemda DIY. Setelah mengetahui bahwa didirikan pada tahun 1918, maka menjadi menarik. Disamping ingin tahun terkait proses produksi dan mendapatkan souvenirnya, juga ingin mengetahui bagaimana pengelolaan manajemen yang bisa berjalan lebih dari 100 tahun. (Jon)

BERITA REKOMENDASI