Dilema Pembelajaran Sekolah, Tatap Muka Atau Tetap Daring ?

YOGYA, KRJOGJA.com – Pembelajaran pada sekolah di DIY mengalami dilema, antara keinginan sebagian orang tua untuk dibukanya kembali tatap muka guru dan murid. Namun di sisi lain, keinginan tersebut mengandung risiko yang tinggi, karena di DIY masih berada di wilayah penularan sedang (oranye). Jika dipaksakan, maka dikhawatirkan sekolah bisa menjadi sumber penularan.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah DIY dr Joko Murdiyanto SpAn MPH kepada KR, Minggu (9/8) memahami keinginan orangtua siswa yang ingin pembelajaran tatap muka (luring) segera dimulai secara bertahap. Menurutnya, antara pembelajaran konvensional secara tatap muka (luring) dan pembelajaran daring, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Dikatakan Joko, kekurangan dari pembelajaran daring, salah satunya adalah penanaman nilai-nilai (karakter) menjadi sangat minim. Padahal nilai-nilai karakter itu sangat penting sebagai bekal bagi anak berlatih hidup (life skills). Selain itu, ketika pembelajaran dilakukan di rumah, tidak sedikit anak justru berkeliaran bermain di luar rumah.

“Pertanyaannya, apakah boleh begitu saja pembelajaran tatap muka di sekolah dibuka. Ini perlu pembahasan bersama secara komprehensif seluruh stake holders, mulai pemerintah, orangtua, tokoh masyarakat, tokoh pendidikan dan unsur lain yang terkait,” terang Joko menanggapi tuntutan sebagian orang tua yang minta pembelajaran tatap muka segera dibuka. Tuntutan itu, banyak diungkapkan di media sosial.

Joko bisa merasakan kegalauan para orangtua dan kegamangan pemerintah dalam membuat kebijakan soal metode pembelajaran. Menurut Joko, jika nantinya pembelajaran tatap muka dibuka/dimulai, maka syaratnya harus ketat. Selain semua harus disiplin menerapkan protokol kesehatan, guru sekolah wajib diswab, karena berada di depan kelas. Selain itu warga masyarakat di sekitar sekolahan juga harus disiplin. “Meskipun sekolahnya bagus dan semua sudah dicek, tapi kalau masyarakat di sekitarnya tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan, bisa berpotensi menularkan virus kepada siswa,” katanya.

BERITA REKOMENDASI