Din Desak Hentikan Pendekatan Represif

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Demi kemanusiaan yang adil dan beradab serta demi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, Dewan Pertimbangan MUI mendesakkan penghentian pendekatan otoriter, represif dan kekerasan negara atas rakyat warga negara. Kepada pemangku amanat, baik DPR maupun Pemerintah, dipesankan untuk mengedepankan pendekatan dialogis persuasif dengan mengakomodasi aspirasi rakyat. Karena justru itu adalah kewajiban pemangku amanat yakni untuk membela dan memperjuangkan aspirasi rakyat, bukan kepentingan terbatas dari sekelompok orang atau golongan.

Ketua Dewan Pertimbangan MUI Din Syamsuddin mengemukakan hal tersebut kepada media di Yogya, Senin (30/09/2019) malam. Hal tersebut disampaikan dengan melihat penanganan terhadap aksi mahasiswa di pelbagai kota serta melihat dengan apa yang terjadi di Wamena.

Peristiwa Wamena yang  menimbulkan puluhan orang kehilangan jiwa menurut Din mestinya dapat dicegah. Tapi terkesan ada kelambanan dan kealpaan negara dalam mengatasi serta mengantisipasi keadaan telah menyulut ‘perang saudara’ di antara sesama anak bangsa. Hal mana disebutnya mendorong disintegrasi sosial dan potensial meruntuhkan Negara Bhinneka Tunggal Ika. “Sementara, aksi protes mahasiswa dan pelajar yang merebak serentak di berbagai kota bukan hal sepele, maka perlu disikapi dengan penuh kepedulian,” tandas Din.

Aksi tersebut dinilai merupakan ekspresi kekecewaan menggumpal terhadap pengabaian akan aspirasi rakyat oleh DPR dan Pemerintah. Sejumlah UU yang  disahkan DPR seperti UU tentang KPK, penundaan pengesahan RUU tentang KUHP dan lain sebagainya menunjukkan DPR dan Pemerintah tidak peduli terhadap aspirasi rakyat. Bahkan terasa mengabaikan mekanisme pembahasan RUU yang bersifat terbuka.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menyebutkan, aksi protes mahasiswa dan pelajar yang  merasa memiliki keterpanggilan untuk pengawasan social, untuk  perbaikan justeru dihadapi oleh aparat keamanan dan penegakan hukum dengan sikap otoriter dan represif. “Akibatnya, jiwa  mahasiswa sampai ada terenggut senjata yang dibeli dengan uang rakyat. Ini bukan hanya menyedihkan namun juga ironi,” lanjutnya. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI