Dipertangan Lakukan Gerakan Memanen Hujan

Editor: Ivan Aditya

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com – Untuk mengantisipasi kemarau panjang dan menurunnya hari hujan dari tahun ke tahun, Dinas Pertanian dan Pangan (Dipertangan) Gunungkidul mulai tahun 2019 melakukan gerakan memanen hujan. Untuk dapat memanen hujan mesti dibangun banyak dam parit, yang dilakukan pemerintah maupun swadaya masyarakat. Beberapa bangunan dam parit yang dibiayai pemerintah sudah dibuat di sebagian wilayah kecamatan.

Seperti di Kecamatan Gedangsari, untuk swadaya di beberapa desa di Kecamatan Karangmojo. Dam parit ini tidak harus besar, yang penting setiap areal mempunyai dam-dam yang dapat menampung air di musim penghujan untuk dimanfaatkan ketika musim kemarau karena hari hujan terus menurun.

Baca juga :

Desain Tol Yogya Berpeluang Diubah, Simpang Monjali Bakal Hilang
Malioboro Bakal jadi Kawasan Bebas Rokok

”Idealnya setiap petakpetak lahan mempunyai dam parit untuk menyiram tanaman ketika musim kemarau. Jumlah dam parit mestinya ribuan,” kata Kepala Dipertangan Gunungkidul Ir Bambang Wisnu Broto.

Sejak tahun 2010 hingga tahun 2019 tren hari hujan terus menurun. Hari hujan tertinggi hanya terjadi pada tahun 2016 sebanyak 259 hari. Selain itu hari hujan hanya berkisar 100 hari atau malah kurang dari 100 hari.

Seperti tahun 2010 hujan 126 hari, tahun 2011 jumlahnya 109 hari, 2012 turun menjadi 88,87 hari, tahun 2013 sama 88,87 hari, tahun 2014 naik menjadi 103,67 hari, tahun 2014 naik lagi menjadi 103,67, menjadi 138 hari tahun 2016 dan jumlah tertinggi pada tahun 2016 sebanyak 259 hari.

Setelah itu menurun lagi, tahun 2017 jumlahnya 126,38 hari, dan tahun 2018 sebanyak 74,05 hari dan naik di tahun 2019 sebanyak 77 hari. Tren Hujan Data tersebut menunjukkan sejak tahun 2010 tren hujan terus menurun.

Hal ini sudah disampaikan kepada kelompok-kelompok tani agar dapat menyesuaikan diri. Artinya, petani mesti bisa memilih jenis tanaman yang mampu bertahan ketika kekurangan air. ”Solusi terbaik memanen hujan dengan memperbanyak pembuatan dam parit,” tambahnya.

Selain membangun dam parit, Dinas Pertanian juga sudah banyak melakukan revitalisasi sumber-sumber air dan saluran irigasi yang sebelumnya belum berfungsi secara maksimal. Ada juga pembangunan sumursumur bor baru agar dapat menyuplai kebutuhan irigasi pada lahan-lahan petani yang sering mengalami kekeringan.

Untuk modernisasi sektor pertanian bupati juga menyerahkan berbagai alat mesin pertanian, dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Perubahan (APBDP), 86 unit hand traktor, 18 unit pompa air, 12 unit hand saprayer dan 4 unit pady mower. Sementara dari APBDP DIY, pemipil jagung atau corn sheller 5 unit, power threser 2 unit dan 3 traktor TR 2. Dari anggaran pusat 5 unit pompa air.

Selain itu untuk dukungan dalam program UPSUS , membantu rehabilitasi jaringan irigasi tersier yang dapat mengaliri 400 hektare lahan padi, bantuan 5 unit pipa yang tiap unit untuk 20 hektar, sehingga dapat menjangkau areal 100 hektare padi dan bantuan 9 unit perpompaan. (Ewi)

BERITA REKOMENDASI