DIY Kembali Catat Deflasi

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – DIY kembali mencatatkan deflasi pada September 2018. Laju inflasi bulanan DIY tercatat mengalami deflasi sebesar 0,11 persen (mtm), dengan laju inflasi bulan kalender DIY sebesar 1,48 persen (ytd) dan laju inflasi tahunan mencapai 2,77 persen (yoy). Pencapaian inflasi DIY masih lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 2,88 persen (yoy) hingga Triwulan III 2018 dan diperkirakan inflasi masih berada pada sasaran 3,5 – 1 persen (yoy) sampai akhir 2018.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY Budi Hanoto menuturkan komponen inflasi inti tercatat 0,34 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,29 persen (mtm). Faktor penyebab inflasi inti pada September 2018 dipengaruhi peningkatan tarif perguruan tinggi dan tarif sewa rumah, yang terjadi secara rutin setiap tahun ajaran baru.

Sementara itu, gejolak ekonomi global menyebabkan masyarakat kembali meminati komoditas emas sebagai instrumen investasi. ”Komponen administered price mengalami deflasi 0,11 persen (mtm), mengalami penurunan deflasi dibanding bulan sebelumnya sebesar 1,13 persen (mtm). Penurunan tarif angkutan udara menjadi faktor utama deflasi pada kelompok administered prices. Namun demikian deflasi pada kelompok tersebut tertahan oleh kenaikan harga rokok kretek dan rokok filter,” jelas Budi.

Dipaparkan, komponen volatile food kembali mengalami deflasi 1,90 persen (mtm), lebih rendah dari periode sebelumnya yang deflasi 1,35 persen (mtm). Komoditas daging ayam, bawang merah, cabai rawit dan cabai merah mengalami penurunan harga.

Adapun komoditas yang mencatatkan kenaikan harga pada periode September 2018 antara lain beras dan bawang putih. ”Terkendalinya inflasi DIY pada level yang cukup rendah merupakan sebuah kerja sama dan sinergi yang berkesinambungan antara BI DIY dengan Pemda DIY dalam mendorong terciptanya inflasi yang rendah dan stabil,” ungkapnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI