DIY Tak Gegabah Buka Kembali Sekolah, Ternyata Ada Enam Alasannya..

PROPINSI DIY akan hati-hati untuk membuka aktivitas belajar dan mengajar di sekolah. Jika gegabah, maka dikhawatirkan sekolah akan menjadi ajang penularan virus Korona (Covid-19). Paling tidak ada enam alasan yang melatarbelakangi hal itu. Apa sajakah?

New Normal Butuh Persiapan Baik

Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY, Didik Wardaya MPd di Yogyakarta, Senin (1/6) mengemukakan penerapan skema ‘New Normal’ (Kenormalan Baru) di bidang pendidikan membutuhkan persiapan dan
perencanaan yang baik.

Konsekuensi dari itu, seandainya nanti Kenormalan Baru benar-benar diberlakukan di bidang pendidikan protokol kesehatan harus dilakukan secara ketat. Sejauh ini Disdikpora DIY sedang mempersiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) seandainya nanti kebijakan tersebut diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.

”Tentu dalam SOP itu tetap memperhatikan protokol kesehatan dan memenuhi standar penanggulangan Covid-19. Mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada pedoman, sambil menunggu rambu-rambu yang diberikan oleh Kementerian,” kata Didik Wardaya.

Sekolah Identifikasi Siswa dan Guru

Menurut Didik, sekolah harus lebih dahulu mengidentifikasi atau menginventarisasi mana siswa yang bisa masuk dan tidak. Begitu pula dengan gurunya, seandainya tidak memungkinkan untuk diberlakukan, maka akan dilakukan pembelajaran daring seperti yang selama ini sudah berjalan.

Sekolah Jadwal Ulang Jam Pelajaran

Sekolah juga diminta untuk menjadwalkan ulang jam pelajaran. Karena KBM tidak mungkin dilakukan secara penuh sejak pagi hingga siang seperti pada biasanya. Karena pembelajaran maksimal hanya 3 jam
sampai 3,5 jam dalam satu hari dan tidak ada waktu istirahat.

“Seandainya diberlakukan, sekolah wajib melakukan inventarisasi terlebih dahulu. Misalnya guru-guru mana yang bisa masuk artinya dari sisi kesehatan tidak ada masalah. Begitu pula dengan sekolah dipastikan tidak berada di zona merah dan memiliki fasilitas seperti tempat cuci tangan memadai serta semua guru dan siswa wajib memakai masker,” terang Didik.

BERITA REKOMENDASI