DIY Terbuka Untuk Investasi Industri Kreatif Padat Karya

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA (KRjogja.com) – Investasi industri skala besar dan sektor-sektor tertentu belum dapat masuk ke DIY karena keterbatasan luas lahan dan jenisnya. Untuk itu, Pemda DIY membuka peluang invetasi seluas-luasnya bagi industri kreatif baik skala kecil hingga menengah yang tidak polutan, bersifat padat karya dan telah menyebar di seluruh kabupaten/kota melalui kawasan maupun peruntukan kawasan industri.

"Industri skala besar seperti peternakan sapi tidak bisa masuk ke DIY karena membutuhkan luas lahan yang besar di atas 3000 Hektare. Pabrik semen juga tidak bisa masuk ke DIY, karena terbatas lahannya dan polusinya tinggi. Termasuk industri garmen sulit masuk untuk relokasi dari Tangerang dan Bekasi karena butuh lahan besar-besar," ungkap Kepala Kantor Gerai Pelayanan Perizinan Terpadu (GP2T) Pemda DIY selaku, Ir Suyata kepada KR, Selasa (20/9).

Suyata mengatakan investasi yang saat ini dimungkinkan masuk ke DIY adalah industri padat karya skala kecil dan menengah dengan lahan di bawah 5 Hektare tetapi diarahkan ke industri kreatif yang tidak membutuhkan lahan besar dan tidak polutan. Semisal industri jasa dan pariwisata, industri kerajinan dan sebagainya. Sedangkan untuk investor Penanaman Modal Dalam Negeri atau (PMDN) di DIY saat ini lebih besar yang masuk daripada Penanaman Modal Asing (PMA)-nya.

"Enam bulan terakhir ini tidak banyak investor asing yang masuk ke DIY masih banyak investor dalam negeri. Belum tahu sebabnya apakah orientasi bisnisnya beralih ke luar Jawa atau keterbatasan lahan, kita akan berkoordinasi dengan pusat terkait kondisi ini," tandasnya.

Lebih lanjut Suyata menuturkan sejauh ini industri yang bisa masuk ke DIY masih skala kecil dan menengah.  Sedangkan skala besar dengan angka investasi di atas Rp 10 miliar tidak banyak dan ditangani provinsi sementara di bawah Rp 10 miliar ditangani kabupaten/kota. Untuk tahun ini, perizinan investasi di DIY baru sekitar 15 PMDM dan 10 PMA yang mayoritas berasal dari Korea Selatan dan Jepang. PMA pasarnya diarahkan ekspor tidak boleh untuk pasar lokal atau dalam negeri. Invetasi di DIY saat ini sudah mulai menyebar di kabupaten/kota tidak mendominasi daerah tertentu.

"Nilai invetasi itu di luar nilai tanah dan bangunan yang saat ini banyak di bawah Rp 10 miliar supaya bisa di kabupaten/kota. Rata-rata izin yang masuk masih pengembangan usaha yang lama seperti perusahaan penjahitan garmen menambah produksi untuk kotak tisu dan sebagainya," imbuh Suyata. (Ira)

BERITA REKOMENDASI