DIY Waspada Banjir Lahar Hujan Merapi

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Topografi kemiringan wilayah DIY cukup baik untuk membawa/mengalirkan air dari hulu hingga hilir. Namun jika curah hujan yang terjadi intensitasnya sangat tinggi, misalnya mencapai 170 milimeter perjam dan berlangsung dalam waktu lama, hal itu perlu diwaspadai.

Pakar hidrologi dari Fakultas Teknik UGM Prof Dr Ir Budi Santoso Wignyosukarto Dip HE di Kantor Humas UGM mengatakan, curah hujan dengan intensitas sangat tinggi dan berlangsung lama akan mampu membawa material Gunung Merapi masuk ke sungai-sungai yang berhulu ke Merapi seperti Kali Opak atau Code.

"Banjir lahar hujan inilah yang harus diwaspadai," ujarnya. Selain itu, curah hujan sangat tinggi yang berlangsung lama juga bisa menimbulkan genangan-genangan air di wilayah Bantul.

Sedangkan pakar hidrologi sekaligus aktivis konservasi sungai dari Fakultas Geografi UGM Prof Dr Suratman MSc mengatakan, khusus di wilayah karst seperti di Kabupaten Gunungkidul dan Bantul, hujan dengan intensitas tinggi dan berlangsung lama bisa menyebabkan munculnya 'luweng' (sinkhole).

Fenomena 'luweng' ini disebabkan ada lapisan karst yang pecah kemudian air hujan masuk dan membentuk lubang vertikal ke bawah dan bergabung dengan sungai bawah tanah. "Perlu diwaspadai kalau terjadi hujan ekstrem di daerah kapur seperti di Bantul, Gunungkidul dan Wonogiri, ada potensi terjadi sinkhole," ujarnya.

Menurut Suratman, di DIY sudah ada gerakan restorasi sungai ditandai dengan adanya komunitas-komunitas sungai seperti Komunitas Kali Code, Gajahwong dan Winongo. Komunitas ini terhubung dalam satu sistem komunikasi dari hulu sampai hilir. Manakala terjadi hujan lebat, komunitas sungai termasuk Desa Tangguh Bencana akan saling menginformasikan kondisi sungai, untuk mengantisipasi bencana banjir.

"Masyarakatlah yang harus dibuat tangguh bencana, termasuk Pemerintah Daerahnya. Sistem peringatan dini perlu dibangun termasuk mitigasi dan edukasi terkait kebencanaan," pungkasnya. (Dev)

BERITA REKOMENDASI