DLH Tetap Siaga Antisipasi Lonjakan Sampah

YOGYA (KR)- Meski ada pembatasan di berbagai titik pada malam pergantian tahun, namun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogya tetap siaga. Terutama untuk mengantisipasi potensi lonjakan sampah yang biasanya terjadi usai perayaan malam tahun baru.

“Kesiapsiagaan kami terutama agar pada pagi harinya tidak ada tumpukan sampah yang mengganggu estetika kota. Khususnya di objek vital seperti Malioboro, Gedung Agung dan tempat lain,” ujar Kepala DLH Kota Yogya Sugeng Darmanto, Rabu (30/12).

Proyeksi sampah pada malam pergantian tahun masa pandemi pun diprediksi tidak akan sebanyak tahun-tahun sebelumnya. Akan tetapi meski dari sisi debit berkurang namun kapasitasnya bisa sama. Hal ini karena saat musim hujan beban sampah menjadi lebih berat. “Oleh karena itu petugas tetap kami siagakan berikut armada pengangkut
sampah,” imbuhnya.

Sementara itu untuk menekan debit sampah yang diproduksi oleh masyarakat, selama ini DLH Kota Yogya masih bergantung terhadap peran para pemulung. Komunikasi dengan pemulung selama ini terjalin dengan baik saat proses pengangkutan di depo maupun TPS. Sampah yang hendak diangkut ke dalam armada biasanya sudah terpilah. Sedangkan untuk peran bank sampah, sejauh ini baru mampu mengurangi sekitar tiga persen dari total 360 ton sampah per hari. Targetnya pun hanya dipatok sekitar lima persen dengan pertimbangan realistis.

“Total ada 481 bank sampah yang aktif. Harapankami bank sampah tidak hanya mengelola sampah anorganik tetapi juga sampah organik dari lingkungan untuk dijadikan kompos,” terang Sugeng.

Kendati demikian, untuk memaksimalkan peran bank sampah juga harus disertai dengan upaya memberikan pemahaman guna mengubah mindset masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga. Merubah pola pikir atau paradigma masyarakat itu pun tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh waktu yang panjang, apalagi penduduk di Kota Yogya sangat heterogen dan banyak pendatang.

Sebelumnya Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi, mengatakan pengelolaan sampah organik juga sudah dilakukan oleh kampung sayur yang mengolahnya untuk pemenuhan kebutuhan pupuk kompos. Hanya pengelolaan sampah akan semakin maksimal jika didukung kesadaran masyarakat dengan menerapkan prinsip 3R yakni reduce reuse and
recycle. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI