Dosen Ilmu Komunikasi Kritisi Hasil Survei AMDK

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – ‎Survei dan rekomendasi yang dibuat Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) terhadap produk air minum dalam kemasan (AMDK) tidak berdasarkan penelitian ilmiah. Salah satu yang menjadi sorotan dari survei YLKI itu adalah soal objek yang disurvei. Dimana populasi survei post market adalah toko yang menjual AMDK galon. Meliputi supermarket, minimarket, agen dan warung.

“Seharusnya, populasi penelitian survei konsumen adalah seluruh konsumen yang pernah atau berlangganan dalam pengkonsumsian AMDK dan bukan toko penjualnya,”kata dosen ilmu komunikasi, Satrio Arismunandar dalam keterangan persnya yang diterima KRJOGJA.com di Yogyakarta, Selasa (05/04/2022).

Menurut Satrio, survei yang dilakukan YLKI yang menyimpulkan bahwa AMDK galon guna ulang yang terpapar sinar matahari akan menimbulkan migrasi zat BPA ke air minumnya, itu tidak bersifat obyektif. Pasalnya kesimpulan itu idealnya harus diukur dengan alat tertentu, dan bukan sekadar opini.

Bahkan, untuk mengukur keterpaparan sinar matahari juga perlu ketersediaan alat ukur dan penguasaan teknis tersendiri. Dimana masyarakat awam tidak paham dan tidak bisa melakukannya. Karena harus dilakukan oleh orang yang ahli atau profesional di bidangnya.

“Dalam penelitian ilmiah harus ada batasan yang jelas untuk pengertian terpapar sinar matahari. Apalagi jika mau mengklaimnya hingga ke tahap yang berisiko pada kesehatan konsumen,” ungkapnya.

Satrio menyebut pakar polimer Institut Teknologi Bandung (ITB), Ahmad Zainal Abidin, menyatakan bahwa galon AMDK berbahan PET yang digunakan untuk galon sekali pakai lebih berisiko jika terkena sinar matahari dan benturan, dibandingkan galon guna ulang yang berbahan Polikarbonat.

Hal itu karena galon PET memiliki temperatur transisi gelas (Tg) yang jauh lebih rendah dibanding yang berbahan Polikarbonat. Suhu transisi gelas adalah suhu di mana suatu polimer mengalami perubahan dari liquid (yang mengalir, walaupun mungkin sangat lambat) menjadi bentuk solid.

“Galon berbahan PET memiliki temperatur transisi gelas pada 80 derajat Celcius, sedang galon Polikarbonat pada 150 derajat Celcius. Dengan demikian, galon berbahan PET akan lebih berisiko jika terkena sinar matahari ketimbang Polikarbonat,” terang ‎Ahmad Zainal Abidin. ‎‎(Ria)

BERITA REKOMENDASI