DPRD Kota Nilai Pembina Pramuka Ajarkan Tepuk SARA Jadi Bibit Intoleransi

YOGYA, KRJOGJA.com – Seorang pembina pramuka mengajarkan tepuk bernarasi SARA pada murid di SDN Timuran Kota Yogyakarta. Tepuk Islam dengan akhiran yel-yel “Islam-Islam Yes, Kafir-Kafir No” disampaikan sebelum diprotes salah seorang orangtua murid. 

Baca Juga: Pembina Pramuka Ajarkan Tepuk 'Islam-Kafir'

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Yogyakarta Dedi Jati Setiawan meminta agar dalam kegiatan ekstra kurikuler yang diselenggarakan sekolah memberikan pendidikan karakter dan budi pekerti yang baik. Adanya tepuk pramuka dengan narasi SARA tersebut menurut dia menjadi praktik intoleransi yang tak lagi bisa ditoleransi. 

"Pendidikan harus memberikan penanaman nilai sesuai Pancasila, kebangsaan dan bhinneka tunggal ika. Kita sayangkan adanya kasus tepuk Pramuka yang jadi polemik itu. Praktek intoleransi ini bertentangan dengan nilai keistimewaan DIY yang junjung tinggi bhinneka tinggal ika sesuai Pasal 5 UU 13 tahun 2012,” ungkapnya melalui rilis pada media Senin (13/1/2020). 

DPRD Kota Yogyakarta menurut dia akan segera memanggil pihak terkait termasuk Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta dan Pembina Pramuka Kwarcab untuk membahas lebih detail. Hal tersebut dilakukn agar kejadian serupa tak terulang di kemudian hari. 

"Intinya kami di dewan khususnya Fraksi PDI Perjuangan sangat menyayangkan dan prihatin atas kejadian tersebut. Karena hal ini bentuk intoleransi dan mencederai kehidupan masyarakat kota Yogyakarta yang berdasarkan Pancasila,” tandas dia. 

Baca Juga: Petani Petai di Kebumen Alami Fenomena Langka

Sebelumnya diberitakan seorang pembina pramuka mengajarkan tepuk bernarasi SARA pada siswa SDN Timuran saat ia sedang menjalani praktik KML. Pembina yang diketahui seorang perempuan tersebut  mengajarkan tepuk Islam di depan murid dengan narasi diakhiri yel-yel Islam-Islam Yes, Kafir-Kafir No.

Salah satu orangtua siswa yang mendengar lantas melakukan protes pada pembina senior yang ada di lokasi saat kejadian. Namun begitu, ternyata hal yang bernada intoleransi dan anti kebhinekaan tersebut belum diproses lebih lanjut hingga ke Kwarcab Kota Yogyakarta dan baru akan diagendakan secepatnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI