dr Tri Kusumo, Dokter Teladan DIY Idola “Mbak-Mbak Sarkem”

Editor: KRjogja/Gus

YOGYA, KRJOGJA.com – Kementrian Kesehatan melalui Dinas Kesehatan DIY baru saja mengumumkan penghargaan bagi tenaga kesehatan teladan DIY 2019. Pemenang terbaiknya, dokter kepala Puskesmas Gedongtengen Kota Yogyakarta, dr Tri Kusumo Bawono SE yang mendapatkan total nilai 85,20. 

Program inovasi yang dicanangkan dr Tri, begitu ia akrab disapa yakni Peradha (Pelayanan Ramah ODHA) ternyata mampu mengantarkannya mewakili DIY di tingkat nasional. Ia melihat kasus Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) semakin menaik dan harus ada penanganan tepat sehingga tenaga kesehatan mulai dari puskesmas perlu melakukan inovasi guna meningkatkan kualitas hidup mereka. 

Figur dr Tri sendiri selama ini mungkin tak asing di kalangan masyarakat Kota Yogyakarta terlebih di kawasan Sosrowijayan dan Sarkem. Ia terbilang begitu aktif melakukan sosialisasi dan penanganan terutama terkait kesehatan masyarakat. 

Salah satu yang tampaknya menarik yakni keseriusannya dalam menangani kualitas kesehatan “mbak-mbak” di Pasar Kembang (Sarkem) terutama terkait penyakit menular seksual dan HIV. dr Tri bahkan begitu dikenal oleh perempuan penjaja cinta di salah satu kawasan yang dikenal luas meski bukan merupakan lokalisasi tersebut. 

Banyak cerita menarik dilewati dr Tri saat melakukan pelayanan kesehatan di berbagai lokasi Yogyakarta, salah satunya Sarkem. KRjogja.com berkesempatan berbincang lebih jauh mengenai pengalaman-pengalaman unik sekaligus menarik bersinggungan dengan “mbak-mbak” di Sarkem. 

Dokter Tri menceritakan mulai masuk ke wilayah-wilayah prostitusi tersebut sejak 2004. Ia mengaku tak mudah menjangkau wilayah-wilayah tersebut dan tak jarang harus berhadapan dengan ‘penguasa’ setempat dengan berbagai konsekuensi. 

“Dulu kalau kami datang (ke Sarkem), mbak-mbak yang mau dites HIV atau diperiksa cuma sedikit, mereka takut dengan penguasa setempat. Lambat laun saya coba mendekati dengan hati, diplomasi kekeluargaan dengan tokoh-tokoh setempat ya lama-lama banyak ikut pemeriksaan, satu misi tercapai,” ungkapnya ketika berbincang Sabtu (3/8/2019). 

Pengalaman menarik sempat dialami dr Tri yang begitu membekas hingga saat ini yakni saat ia digoda mbak-mbak Sarkem saat hendak melakukan pelayanan kesehatan. dr Tri mengaku kerap digoda mbak-mbak penjaja cinta di Sarkem lantaran ia memang berparas cukup ganteng. 

“Kaki saya pernah dijepit, digoda diminta mampir. Tapi lalu dari jauh diteriaki temannya bilang kalau saya dokternya. Lalu mbak-mbaknya yang kemudian saya tahu namanya Mbak Sinta berlalu, mungkin malu. Enam atau tujuh tahun kemudian dia datang ke lokasi praktek saya cerita kalau dulu dia yang menjepit saya minta mampir. Dia sekarang pindah ke kawasan Bantul,” kenangnya tersenyum. 

Warga Pakualaman Yogyakarta tersebut mendapat tempat tersendiri di hati pasien yang dijangkaunya. Bahkan salah satu pasien ‘mbak-mbak’ sempat menaruh hati meski kemudian mengurungkan niat lantaran dr Tri telah berumahtangga. 

“Saya sempat diberi gift baju, mungkin karena saya tulus menjangkau teman-teman selama ini ditanggapi keliru. Tapi tetap saya berteman dengan siapa saja sampai saat ini, karena ini bentuk pengabdian saya. Jangan sampai memposisikan seperti dokter dan pasien tapi seperti teman karena kerap permasalahan kesehatan yang saya tangani sangat sensitif,” kisahnya. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI