Ekonomi DIY Resesi, Pemda Harus Genjot Belanja Konsumsi

YOGYA, KRJOGJA.com – Pandemi Covid-19 memukul perekonomian DIY yang ditopang sektor pariwisata dan pendidikan. Secara teknis ekonomi DIY saat ini mengalami resesi karena selama dua Triwulan berturut-turut pertumbuhan ekonominya negatif. Untuk membangkitkan kembali perekonomian, pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota di DIY harus segera mengeksekusi belanja konsumsi.

Di Triwulan I pertumbuhan ekonomi DIY minus 0,17%, dan hitungan sementara di Triwulan II pertumbuhannya minus di kisaran 3%. ”Secara teknis ekonomi DIY sedang mengalami resesi. Perlu dilakukan langkah cepat agar segera pulih. Kuncinya di Triwulan III ini harus optimal mendorong konsumsi. Tanpa ada pergerakan di sektor riil, akan sangat sulit untuk memulihkan ekonomi,” kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Yogyakarta, Miyono, dalam Diskusi Kritis Media #3 bertema ‘Membangun Ketahanan Ekonomi Daerah di Masa
Pandemi’, di Coffee & Resto Tarumartani 1918 Yogyakarta, Sabtu (18/7).

Survei BI menunjukkan bahwa masyarakat sekarang menahan konsumsi dan lebih banyak menabung. Dalam dunia normal, peningkatan tabungan sangat bagus karena dana yang terkumpul untuk menyalurkan kredit akan
lebih banyak. Tapi dalam kondisi resesi, konsumsi harus digenjot karena tanpa itu ekonomi tidak bisa bergerak.

”Intinya, banyak kebijakan yang sudah ditempuh, baik sisi fiskal maupun moneter. Permasalahannya tinggal bagaimana eksekusi uang yang sudah turun dari APBN ke APBD, baik provinsi maupun kabupaten/kota, serta uang yang sudah dikeluarkan BI ke perbankan melalui mekanisme transmisi perbankan,” katanya.

Eksekusi belanja konsumsi itu sejalan dengan instruksi Presiden RI Joko Widodo, yang mendapati Pemda di Indonesia memiliki dana yang tertahan di bank hingga Rp 170 triliun. Padahal belanja Pemerintah sangat diperlukan untuk menahan merosotnya pertumbuhan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

BERITA REKOMENDASI