Ekowisata Kalibiru, Tuai Rejeki dari Hutan Lestari

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Wisata Alam Kalibiru, salah satu destinasi pariwisata andalan DIY, menyulap hutan yang semula gundul akibat pembalakan liar menjadi rimbun dan lestari. Ekowisata di kawasan hutan Menoreh Barat, Kulonprogo ini juga membawa dampak positif menyejahterakan masyarakat sekitar.

Kalibiru sudah beroperasi sejak 2009 dan dikelola oleh Kelompok Tani Hutan Kemasyarakatan (HKm) Mandiri program Perhutanan Sosial. Wisata alam ini terbentuk berkat kolaborasi seluruh pihak dari masyarakat setempat, pemerintah daerah dan pusat, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Ketua Kelompok Tani HKm Mandiri Kulonprogo, Parjan, mengatakan saat ini banyak masyarakat yang sebelumnya bekerja di luar negeri dan luar kota pulang ke kampung halaman untuk mengelola Wisata Alam Kalibiru. Tak heran memang karena pada 2018, omset wisata Kalibiru mencapai Rp 7,2 miliar.

Parjan mengungkap tidak mudah membangun Kalibiru karena ia dan kelompoknya banyak menemui tantangan pada awal pembentukan. Sebelumnya, kawasan tersebut adalah kawasan hutan produksi yang menjadi tempat masyarakat menanam pohon dan tumbuhan lainnya.

“Lalu, karena beralih menjadi hutan lindung, Parjan dan kelompoknya mencari jalan keluar untuk tetap memanfaatkan hutan tanpa merusaknya. Waktu mengarah ke jasa lingkungan yaitu pembuatan ekowisata, banyak yang tidak setuju karena takut tidak bisa merambah lagi. Lalu ada pendekatan dari pemerintah dan LSM yang turut mendukung untuk mengarah ke sana,” ungkap Parjan dalam seminar Katadata menuju COP26 yang bertajuk “Ecotourism for Forest Conservation and Social Welfare”, Senin (25/10/2021).

Tak hanya membantu meyakinkan masyarakat, pemerintah daerah dan LSM pun berkolaborasi dengan HKm Mandiri untuk memperkuat kelembagaan Wisata Alam Kalibiru. Project Manager Community Based Forest Management Kemitraan, Gladi Hardiyanto atau biasa dipanggil Yayan, menjelaskan bahwa LSM turut membantu memperkuat konsep ekowisata dan memastikan seluruh komponennya terpenuhi.

“Ada peran Pemda Kulonprogo masuk mendukung sarana dan prasarana. Dan yang penting itu pengelolaannya. Pengelolanya pemuda, mereka menemukan titik-titik spot foto yang menarik wisatawan,” tandas dia.

Dalam webinar tersebut hadir pula Bupati Kulonprogo, Sutedjo, yang menceritakan bahwa dukungan Pemkab diwujudkan dengan melibatkan masyarakat dalam mengelola dan memelihara hutan. Sebelum mengantongi ijin HKm, masyarakat diberi izin sementara selama 5 tahun.

Sutedjo menyadari bahwa mengubah pola pikir masyarakat tidak mudah. Namun dengan upaya yang dilakukan terus menerus, masyarakat mulai memiliki rasa kepemilikan akan hutan dan menjaganya dari pembalakan liar. Kelompok Tani HKm Mandiri menjadi pionir dalam mengelola kawasan hutan secara lestari dengan membentuk Wisata Alam Kalibiru. Akhirnya, Pemda terus memberi dukungan dalam berbagai bentuk.

“Selain pendampingan, kami pernah memberi bantuan seperti pembentukan usaha koperasi, bibit tanaman untuk di bagian bawah kawasan Kalibiru, ternak lembu dan beberapa lainnya,” imbuh Sutedjo.

Melihat keberhasilan pengelolaan Wisata Alam Kalibiru, pemerintah pusat mengapresiasi kerja keras dan kolaborasi seluruh pihak yang terlibat. Menurut Sekretaris Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Erna Rosdiana, keberhasilan ini adalah cita-cita dari program perhutanan sosial itu sendiri.

“Ini seperti sebuah konsep tanpa kita kondisikan dari pusat dan berjalan sendiri. Kami punya konsep tapi implementasinya secara spontan ditangkap Pemda dan diimplementasikan oleh masyarakat, lalu difasilitasi oleh pendamping,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI