Ekspor dan Impor Barang DIY Kompak Naik

Editor: Ivan Aditya

YOGYA, KRJOGJA.com – Nilai ekspor DIY pada Maret 2021 mencapai USD 47,3 juta atau naik 2,16 persen, sementara impor sebesar USD 11,8 juta atau naik 34,09 persen dibanding Februari 2021. Nilai neraca perdagangan DIY selama Maret 2021 mengalami surplus USD 35,5 juta, nilai tersebut lebih tinggi dibanding periode sama 2020 sebesar USD 24,7 juta.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sugeng Arianto menyampaikan nilai ekspor DIY mengalami kenaikan sebesar USD 1,0 juta atau 2,16 persen dibanding bulan sebelumnya USD 46,3 juta. Secara kumulatif, nilai ekspor DIY Januari hingga Maret 2021 mencapai USD 132,5 juta atau meningkat 22,35 persen dibanding periode yang sama 2020.

“Tiga besar negara tujuan utama ekspor barang DIY adalah Amerika Serikat (AS) dengan total nilai ekspor mencapai USD 16,2 juta, disusul Jepang dan Jerman masing-masing dengan total nilai USD 3,6 juta,” katanya di Yogyakarta, Rabu (05/05/2021).

Sugeng menuturkan ekspor ke Uni Eropa pada Maret 2021 menunjukkan kenaikan sebesar USD 0,4 juta atau 2,99 persen dengan tiga negara utama yaitu Jerman USD 3,6 juta, Belanda USD 2,9 juta dan Inggris USD 1,7 juta. Dilihat dari peranan, Uni Eropa mempunyai peran sebesar 29,74 persen terhadap seluruh ekspor DIY.

Khusus ASEAN, tiga besar negara tujuan ekspor adalah Singapura USD 0,3 juta, kemudian Thailand USD 0,2 juta dan Vietnam USD 0,1 juta. Ekspor ke ASEAN hanya berperan sebesar 2,26 persen dari seluruh ekspor DIY.

“Tiga besar komoditas utama ekspor dari DIY pada Maret 2021 yaitu Pakaian Jadi Bukan Rajutan (62) mencapai USD 14,8 Juta, Perabot, Penerangan Rumah (94) USD 6,9 juta dan Barang-barang Rajutan (61) USD 4,0 juta,” ujarnya.

Nilai ekspor menurut sektor yang terdiri dari pertanian dan industri pengolahan pada Maret 2021 masing-masing USD 0,5 juta dan USD 46,8 juta. Sementara itu, nilai ekspor masing-masing sektor tersebut mencapai USD 0,2 juta dan USD 46,1 juta pada Februari 2021 Ekspor produk pertanian menunjukkan peningkatan 150 persen, Sementara ekspor produk industri pengolahan menunjukkan peningkatan 1,52 persen.

“Nilai impor DIY pada Maret 2021 mencapai USD 11,8 jutA yang naik USd 3,0 juta atau mengalami peningkatan 34,09 persen dibanding bulan sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi impor dari 6 negara asal barang utama mengalami kenaikan,” tandas Sugeng.

Impor dari Papua Nugini menunjukkan kenaikan terbesar yaitu USD 2,1 juta. Sementara 2 negara menunjukkan penurunan nilai impor. China merupakan negara asal barang dengan penurunan nilai impor terbesar yaitu USD 1,2 juta atau setara 32,43 persen, Nilai impor DIY dilihat dari golongan barang HS 2 digit menunjukkan 3 besar komoditas berupa Filamen Buatan (54) USD 2,4 juta kemudian Kopi, Teh, Rempah-rempah (09) USD 2,1 juta dan Kain Ditenun Berlapis (59) USD 1,1 juta.

“Neraca perdagangan Januari hingga Maret 2020 mencatat surplus sebesar USD 96,7 juta. Angka tersebut lebih tinggi dibanding periode sama 2020 yang sebesar USD 78,2 juta,” imbuh Sugeng. (Ira)

BERITA REKOMENDASI