Evaluasi, APBD Kota Yogya Dipangkas Rp 40 Miliar

YOGYA, KRJOGJA.com – APBD Kota Yogya 2020 berhasil diputuskan sesuai target. Hanya, hasil finalisasi atas evaluasi Gubernur DIY, terjadi pemangkasan anggaran yang cukup signifikan, totalnya mencapai Rp 40 miliar. 

Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPRD Kota Yogya H Danang Rudiyatmoko, menilai pemangkasan terpaksa dilakukan dan sudah menjadi kesepakatan dengan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) Kota Yogya. "Intinya, apa yang menjadi rekomendasi atas evaluasi Gubernur, kami jalankan. Otomatis, pemangkasan juga berimbas pada perubahan defisit anggaran," jelasnya, Kamis (2/1/2020). 

Pada rancangan APBD 2020, defisit anggaran mencapai 8,23 persen. Sedangkan hasil finalisasi sebagai tindak lanjut evaluasi Gubernur, turun menjadi 6,01 persen. Dengan begitu, ada penurunan hingga 2,22 persen. Jika dikonversikan dengan APBD yang mencapai Rp 1,96 triliun maka penurunannya mencapai Rp 43,5 miliar.

Danang mengaku, idealnya konstruksi anggaran pemerintah defisitnya di bawah 7 persen. Hal ini supaya sisa lebih penggunaan anggaran (silpa) bisa terus ditekan dan semua kegiatan bisa dijalankan. "Pemangkasan itu karena dalam prioritas plafon anggaran sementara tidak sesuai dengan outputnya. Pihak eksekutif dalam menerjemahkan dokumen anggaran, ada yang kurang tepat dengan pagu. Sehingga harus disesuaikan," imbuhnya.

Pemangkasan Rp 40 miliar itu pun dijamin tidak akan mengganggu tema pembangunan tahun ini. Pasalnya, kegiatan yang ditunda sifatnya skala kecil dan menyebar hampir di semua organisasi perangkat daerah. Khusus untuk kegiatan di DPRD Kota Yogya, pemangkasan hanya mencapai Rp 2,4 miliar. Sisanya kegiatan di lingkungan Pemkot Yogya. "Kegiatannya kecil-kecil tapi cukup banyak. Sementara ditunda dulu, nanti akan disesuaikan dalam perubahan anggaran. Hanya menyangkut dokumen penganggaran saja," tandasnya.

Wakil Walikota Yogya Heroe Poerwadi, mengaku tema pembangunan 2020 sudah ditetapkan yakni Peningkatan Daya Saing sebagai Pusat Pelayanan Jasa untuk Masyarakat Berdaya dan Berbudaya. Tema itu diangkat menyesuaikan kondisi faktual di Kota Yogya. Salah satunya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tertinggi se-Indonesia yang mencapai 85,32, akan tetapi ketimpangan ekonomi atau gini rasio juga tertinggi di Indonesia. Sehingga, pertumbuhan ekonomi di Kota Yogya masih didominasi oleh kelompok kelas atas, sedangkan di kelas bawah cenderung stagnan.

"Salah satu yang menjadi poin dalam pembangunan 2020 adalah pengembangan pasar tradisional agar tidak hanya sebagai tempat menjual bahan pokok tapi juga bisa memasarkan produk potensi yang dimiliki masyarakat. Pasar juga bisa dikolaborasikan menjadi destinasi wisata," urai Heroe.

Salah satu contohnya ialah hasil revitalisasi Pasar Prawirotaman yang kelak menjadi empat lantai. Pasar Prawirotaman akan dikombinasikan antara pasar tradisional dengan pasar industri kreatif. Selain itu contoh lain ialah Pasar Beringharjo sisi barat yang konsisten buka hingga malam hari, sehingga bisa menjadi destinasi wisata.(Dhi)

BERITA REKOMENDASI