Fenomena Kerajaan, Ahli UGM : Post Power Syndrome

SLEMAN, KRJOGJA.com – Fenomena munculnya kerajaan layaknya kraton di Indonesia dalam beberapa waktu kebelakang menyita perhatian masyarakat. Kraton Agung Sejagat dan Sunda Empire begitu fenomenal dan membuat banyak orang tertipu daya ikut masuk menjadi anggota. 

Guru besar Psikologi UGM, Prof Koentjoro mengungkap kondisi yang dialami para pembuat kraton tersebut secara psikologis disebut sebagai waham kebesaran. Para pemimpin disebut Koentjoro mampu menerapkan psikologi massa dan mempengaruhi banyak orang untuk percaya.

BACA JUGA :

Duh.. Ratu Keraton Agung Sejagat Ternyata 'Rewel' 

Ternyata, 'Raja' dan 'Permaisuri' Agung Jagat Bukan Pasutri Sah

“Paham kebesaran ini dari segi pemimpin-pemimpinnya di mana mereka punya kemampuan luar biasa untuk meyakinkan sehingga siapa yang mendengarkan itu akan sangat yakin. Mereka bisa meyakinkan apa yang tidak ada menjadi ada, impian itu bisa menjadi kenyataan. Ketika ia ada di antara massa dan bisa sedemikian rupa meyakinkan dengan cita-citanya atau termasuk dengan simbol-simbol tertentu maka akan membentuk sebuah situasi hipnotesa. Itulah psikologi massa, sehingga orang akan dengan mudah percaya dengan apa yang dikemukakan,” ungkap Koentjoro pada wartawan Selasa (21/1/2020). 

Ia mencontohkan yang terjadi di Bandung yakni Sunda Empire yang dinilai tak rasional namun bisa menarik banyak peminat. “Contoh yang terjadi di Bandung Jawa Barat (Sunda Empire) itu sangat tidak rasional. Siapa yang mau negara pada 20 Agustus 2020 maka harus mendaftar. Tapi ketika dilakukan dalam situasi bersama-sama massa, maka menjadi dipercaya. Massa di kalangan bawah menjadi percaya kok simbol-simbol yang dibawa seakan-akan kok ketoke bener,” sambung dia. 

Koentjoro mengatakan tak sepenuhnya percaya dengan teori ekonomi dalam hal ini kemiskinan yang membuat banyak orang tertarik ikut dalam kraton atau kerajaan buatan. Pun demikian dengan para pemimpinnya yang disebut mengalami kondisi post power syndrome. 

“Saya kurang sependapat kalau dikatakan motif ekonomi. Menurut saya pertama bisa karena post power syndrome, banyak diantara mereka orang-orang tua dulu memiliki jabatan tertentu tak begitu tinggi, begitu pensiun di rumah tidak ada lagi yang bisa diperintah. Lalu mereka mencari eksistensi di luar. Kedua mungkin juga kurang belaian kasih sayang. Lalu ketiga mungkin keinginan representatif PNS, banyak yang ingin jadi PNS dengan lambang seperti Kraton. Lha sekarang ada kraton beneran lha mantep jadinya, bukan masalah ekonomi,” ungkapnya lagi. 

Koentjoro menilai kerajaan atau kraton semacam ini akan terus muncul kedepan dengan bentuk yang berbeda di Indonesia. “Masih akan terus ada kedepan, dulu kan juga banyak itu ada Lia Eden dan sebagainya. Ini akan terus ada apakah itu dikaitkan dengan Tuhan, dengan perjanjian yang kita tidak tahu, dengan sabda palon atau dengan ratu adil,” pungkas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI