Film Dokudrama “ASDRAFI Di Atas Kereta Waktu” Diluncurkan

Editor: KRjogja/Gus

SETELAH dipersiapkan selama tiga bulan, film “ASDRAFI Di Atas Kereta Waktu” (“Serpihan Jejak Asdrafi”) diluncurkan, Jumat (9/4) malam di Pendapa Pakuningratan/Asdrafi, Sompilan 12 Ngasem Yogyakarta, pukul 19.00 WIB. Selain pemutaran film, acara ini juga menggelar dialog, pengenalan para pemain dan pentas pantomim Ende Riza.

Film ini disutradarai Indra Tranggono yang juga menulis skenarionya. Dimainkan para aktor alumni Asdrafi seperti Jedink Alexander (merangkap produser), Siti Nikandaru Chairina, Deddy Ratmoyo, Meritz Hindra, Ende Riza, Titok Pangesthi Adji, Dr Nur Iswantara, Mahmoud Elqadrie, Harlizon, Khocil Birawa, dan Awang Rebo Legi. Juga didukung Vio Bintang Pamungkas, Cristina Deque, Gee Myta, Yosep S dan Nunung Rita. Kameraman/editor, Joni Asman. Penata musik, Dr Memet Chaerul Slamet. Penata artsitik, Marco Dinata.

Indra Tranggono mengatakan, film ini bukan film sejarah melainkan dokudrama di mana cerita fiksi digunakan untuk mengungkap beberapa data kualitatif tentang perjalanan dan semangat kreatif ASDRAFI (Akademi Seni Drama dan Film Indonesia).

“Saya berusaha menghadirkan spirit ASDRAFI yang tahan pukul dalam perubahan zaman. Pada setiap era, ASDRAFI selalu berkontribusi melalui ide, karya, dan sumber daya manusia kreatif,” ujar Indra.

Selaku produser Jedink Alexander mengatakan, tujuan pembuatan film ini adalah untuk menggugah ingatan atas eksistensi ASDRAFI dan memberikan apresiasi kepada masyarakat.

“Sejak berdiri pada tahun 1955, ASDRAFI telah mendidik para mahasiswa menjadi kreator yang mumpuni di bidang drama dan film. Antara lain Teguh Karya, Koesno Sudjarwadi, Maruli Sitompul, Hendra Cipta, Alex Suprapto Yudho, Sri Harjanto Sahid dan Masroom Bara. ASDRAFI tidak hanya memberikan ilmu seni tapi juga ilmu kehidupan yang sangat bermakna bagi kelahiran para seniman. Kini ASDRAFI telah menginisiasi berdirinya Insaga Asdrafi yang menangani pendidikan seni, ” ujar Jedink.

Film ini mengisahkan tentang semangat kreatif ASDRAFI yang tidak mengenal mati.Kisah dibuka dengan kemunculan tokoh Jedink bersama isteri dan anaknya bernama Stefani. Jedink yang selama ini tinggal di Melbourne Australia, mengajak anak dan isterinya mengunjungi kampus ASDRAFI untuk menyerap pengalaman dan pengetahuan. Mereka menemukan komunitas kreatif yang memberikan banyak inspirasi. Stefani pun akhirnya memutuskan untuk kuliah di Yogyakarta karena ingin menempa diri dan menjadi seniman profesional.

“Ini film kedua setelah “Aku Bukan Marsinah” yang diproduksi Jedink Production dan Guyub Rukun Keluarga ASDRAFI Yogyakarta,” ujar Jedink. *

BERITA REKOMENDASI