Finalis Duta Museum Ajak Masyarakat Cintai Batik

Editor: Ivan Aditya

YOGYA (KRjogja.com) – Dalam rangka Pemilihan Duta Museum DIY 2016, para finalis yang masuk dalam 30 besar ajang ini mengadakan serangkaian kegiatan project planning di beberapa museum wilayah DIY. Disamping menguji wawasan para calon Duta Museum, kegiatan ini juga sekaligus untuk menanamkan kembali rasa cinta masyarakat terhadap museum di tanah air yang selama ini telah dilupakan.

Salah satu kegiatan dilaksanakan di Museum Batik yang berada di Jalan Dr Sutomo no 13 A Yogyakarta. Dengan mengambil tema 'Cinta di Atas Canting' tiga orang finalis Duta Museum DIY 2016 masing-masing Age Nursadatono, Brilliant Hidayah dan Fitri Astuti menceritakan sejarah perjalanan batik di nusantara serta mengenalkan berbagai motif maupun perlengkapam membatik yang ada di tempat tersebut kepada masyarakat.

"Latar belakang diadakannya kegiatan ini tak lain adanya rasa kekhawatiran akan anak muda sekarang yang tidak mengerti arti dan filosofi batik. Warisan adi wastra nan luhung Indonesia ini harus kita lestarikan," ungkap Ade Nursadatono kepada KRjogja.com, Sabtu (20/08/2016).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan Sabtu (13/08/2016) tersebut Age Nursadatono membawakan monolog yang menceritakan tentang proses pembuatan batik sepanjang masa, mulai dari peralatan serta bahan-bahannya berupa canting, kain mori, bahan pewarna alam maupun malam. Dalam prolognya, finalis Duta Museum DIY 2016 ini mengkritik pemuda Indonesia yang sudah melupakan batik maupun sejarahnya dan malah lebih membanggakan produk-produk luar negeri. Padahal UNESCO telah mengukuhkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

Kegiatan juga diisi dengan fashion show yang digagas finalis lainnya yakni Brilliant Hidayah dan Focus Group Discussion (FGD) ide dari Fitri Astuti. Pada forum diskusi yang membahas sejarah batik dan perannya dalam dunia fashion tersebut, hadir sebagai narasumber yakni Operasional Manager Museum Batik Yogyakarta, Lieke S Kuncoro dan Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC), Lia Mustafa.

Acara ini dihadiri pula oleh perwakilan dari Dinas Kebudayaan DIY, Dimas Diajeng Bantul, Duta Mahasiswa DIY 2016, Mister Teen 2015 Jawa Tengah dan Mister Youth Indonesia DIY 2016. Tak ketinggalan para mahasiswa maupun pelajar juga sengaja mengikuti kegiatan ini untuk mengetahui tentang batik secara langsung.

Museum Batik Yogyakarta berdiri pada tahun 1977 atas prakarasa Hadi Nugroho, pemilik museum. Dengan lahan seluas sekitar 400 meter persegi, tempat ini menyimpan beragam batik mulai dari motif Yogyakarta, Solo maupun wilayah pesisir utara Jawa seperti Semarang, Demak, Pekalongan, Cirebon, Lasem hingga Madura dan juga daerah lain yang perkembangan batiknya kini mulai dikenal masyarakat seperti Bayat, Kebumen, Kulonprogo serta Imogiri. (Van)

BERITA REKOMENDASI